LINEPERISTIWA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan berpotensi kembali melemah pada perdagangan akhir pekan ini setelah gagal menembus level resisten 6.423, sehingga kembali mendekati area 6.290. Dua analis sekuritas merekomendasikan sejumlah saham berbasis komoditas dan energi, dari MDKA, BRMS, hingga CBDK, sebagai pilihan di tengah tekanan pasar.
Analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova menilai kegagalan indeks mempertahankan momentum positif membuat IHSG berada dekat level 6.290. Posisi itu membuka risiko indeks melanjutkan tren turun menuju support Fibonacci berikutnya di 6.159.
“Indikator MACD menunjukkan adanya momentum bearish,” tulis Ivan dalam risetnya.
Level Support dan Resisten IHSG Hari Ini
BinaArtha memetakan tiga level support dan tiga level resisten yang menjadi acuan pergerakan indeks. Support adalah area harga yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu, tempat harga umumnya kembali naik karena pembelian meningkat.
- Support: 6.159, 6.015, dan 5.850
- Resisten: 6.423, 6.552, dan 6.712
Resisten merupakan tingkat harga yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya muncul aksi jual cukup besar sehingga laju kenaikan harga tertahan.
Saham Pilihan BinaArtha Sekuritas
Ivan merekomendasikan lima saham untuk diperhatikan pelaku pasar, mulai dari emiten tambang hingga konsumer dan energi.
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)
- PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
- PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)
Momentum IHSG Mereda Setelah Uji MA60 Kedua
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama menyoroti pergerakan IHSG yang telah menguji batas MA60 untuk kedua kalinya. Menurut dia, pengujian itu membuat momentum penguatan indeks mereda.
Meski MA20 dan MA60 masih dalam kondisi positive crossover, Stochastics KD dan RSI menunjukkan sinyal negatif, didukung penurunan volume. Nafan menilai sentimen perdagangan hari ini masuk kategori mixed-to-cautious.
Tiga Sentimen Eksternal yang Dicermati Investor
Tekanan dari luar negeri menjadi perhatian utama pelaku pasar. Kenaikan harga minyak, lonjakan yield US Treasury, dan ekspektasi kebijakan The Fed yang semakin hawkish menjadi tiga faktor yang membebani risk appetite global.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi multiyears di 5,205%. Kenaikan itu dipicu kombinasi data aktivitas bisnis AS yang kuat dan tekanan inflasi akibat harga energi.
Harga minyak Brent kembali naik 3,86% ke level US$ 107,06 per barel setelah harapan terhadap terobosan diplomatik AS-Iran belum berhasil. Pertemuan Trump-Xi di Washington juga menjadi katalis penting bagi pasar global karena menyangkut perdagangan, perpanjangan gencatan tarif, dinamika Taiwan, Iran, dan energi.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan tersebut relevan karena perubahan risk appetite global dapat memengaruhi arus modal asing, rupiah, harga komoditas, serta kinerja saham berbasis ekspor dan komoditas.
BI Rate 5,75% Jadi Bantalan IHSG
Dari sisi domestik, keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75% memberikan bantalan terhadap IHSG. Kebijakan itu menjaga stabilitas moneter dan membuka ruang bagi pertumbuhan kredit.
Target Harga Saham Pilihan Mirae Asset
Nafan merekomendasikan tiga saham dengan target harga masing-masing. BRMS dibidik menuju level 705, 750, dan 905, sementara CBDK memiliki target 3.700, 3.880, dan 4.580.
PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) juga masuk daftar pilihan dengan target harga Rp 915, Rp 940, dan Rp 1.160 per saham.