Pencarian

Pasar Pondok Labu Sepi, Omzet Pedagang Anjlok 80% dan Terlilit Utang KUR

Selasa, 22 September 2026 • 07:03:01 WIB
Pasar Pondok Labu Sepi, Omzet Pedagang Anjlok 80% dan Terlilit Utang KUR
Pedagang melayani pembeli di kios kosmetik lantai dasar Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan.

LINEPERISTIWA.COM — Omzet pedagang di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan, merosot hingga 80% dari masa jayanya. Farid, penjual kosmetik di lantai dasar pasar, mengaku dulu bisa mengantongi Rp 5 juta per hari, kini sulit mencapai Rp 1 juta. Sepinya pembeli memaksa sejumlah pedagang menutup kios dan menambal modal dengan kredit usaha.

Pasar Pondok Labu yang berdiri tiga lantai itu kini jauh dari keramaian. Pantauan di lokasi menunjukkan banyak rolling door tertutup rapat dan tergembok, terutama di area basement yang lorongnya dipenuhi barang dagangan tak tersentuh pembeli. Pakaian, tas, dan perabotan masih menggantung di sudut-sudut lorong sempit.

Di lantai dasar, jumlah toko yang buka memang lebih banyak. Namun hingga siang, pembeli yang lalu lalang bisa dihitung dengan jari. Kondisi serupa terlihat di lantai paling atas, tempat lapak makanan dan kios buah, sayur, serta daging berada.

Omzet Farid Turun dari Rp 5 Juta ke Bawah Rp 1 Juta per Hari

Farid, pedagang kosmetik dan produk kecantikan yang membuka kios di bagian dalam lantai dasar, merasakan langsung penurunan itu. Menurutnya, Pasar Pondok Labu sempat berjaya pada awal 2000-an hingga menjelang 2019.

"Kondisi pasar ya sudah lumayan parah. Parahnya dari sebelum pandemi sudah terasa. Malah kalau dari waktu pandemi, kita kan disuruh tutup ya, jadi kita kucing-kucingan buka toko, itu masih dapat malah," ujar Farid.

Ironisnya, saat pasar kembali dibuka penuh, pembeli justru makin jarang datang. "Sekarang sudah terbuka kayak gini, malah nggak ada yang datang sama sekali. Lihat saja ini dari tadi nggak ada yang lewat, paling cuma pedagang-pedagang lain yang lewat untuk ke belakang," jelasnya.

Farid menghitung sendiri penurunannya. Dulu ia bisa membawa pulang omzet setidaknya Rp 5 juta per hari. Kini, mengumpulkan Rp 1 juta saja sulit.

"Saya kalau mau ngomong dulu kalau bilang persenan ya ada lah 80% hilang. Dulu saya sehari Rp 5 juta ke atas. Sekarang nyari Rp 1 juta itu susah," ujarnya.

Tabungan Terkuras, Modal Dagang Ditopang KUR

Saat usahanya masih ramai, Farid tidak menghabiskan banyak uang. Selain membeli rumah dan dua motor yang masih dimilikinya, ia lebih banyak menabung karena sadar roda usaha bisa berputar.

Tabungan itu kini terkuras untuk menutup biaya operasional dan bertahan hidup. Farid juga mengambil kredit usaha rakyat (KUR) untuk menjaga perputaran modal dagangnya.

"Ke pangkas tabungan, ya pasti sudah kemakan. Saya justru bisa bertahan karena masih ada itu. Tapi ya saya juga ada ambil KUR buat putaran modal dagang di sini," tutur Farid.

"Jadi sekarang gimana kita imbangin pakai tabungan sama KUR buat perputaran modal sama bertahan hidup. Kalau nanti memang di sisi sudah nggak kuat, ya mau nggak mau selesaikan KUR-nya dulu baru tutup. Soalnya itu jatuhnya utang kan," paparnya.

Ancaman Jual Aset untuk Lunasi Kredit Bank

Jika kondisi pasar tak kunjung membaik, Farid sudah mempertimbangkan menjual sebagian asetnya. Langkah itu diambil agar ia tidak terus terlilit utang bank bila usaha dagangnya benar-benar tak bisa dipertahankan.

Pilihan yang sama mungkin dihadapi pedagang lain di Pasar Pondok Labu. Sebagian kios di berbagai lantai sudah lebih dulu tutup permanen, menyisakan deretan pintu besi tergembok di sepanjang lorong pasar.

Sumber: finance.detik.com

Follow lineperistiwa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks