Pencarian

Irak Kehilangan Pendapatan Minyak US$ 60 Miliar Akibat Perang AS-Iran

Minggu, 27 September 2026 • 06:23:31 WIB
Irak Kehilangan Pendapatan Minyak US$ 60 Miliar Akibat Perang AS-Iran
Irak kehilangan pendapatan minyak sekitar US$60 miliar akibat terganggunya ekspor melalui rute Teluk.

LINEPERISTIWA.COM — Irak kehilangan pendapatan minyak sekitar US$ 60 miliar (Rp 1.068 triliun) setelah tak bisa mengekspor sekitar 90% minyaknya melalui rute Teluk. Selat Hormuz yang jadi jalur utama ekspor Irak berhenti mengalirkan perdagangan bebas sejak akhir Februari. Krisis ini memukul anggaran federal Irak yang lebih dari 90% bergantung pada pendapatan minyak.

Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menggambarkan negaranya tengah menghadapi tantangan ekonomi yang luar biasa. Ia mengungkapkan bahwa Irak sempat tidak dapat mengekspor sekitar 90% minyaknya melalui rute Teluk, yang kini menjadi pusat negosiasi sengit antara Washington dan Teheran.

Gangguan pada rute pelayaran Hormuz memutus rantai pasokan, meningkatkan waktu dan biaya transportasi, hingga menekan drastis volume impor. Kondisi ini menjadi pukulan telak mengingat pendapatan minyak menyumbang lebih dari 90% anggaran federal Irak.

Impor di Baghdad Menyusut, Harga Melonjak 25-30%

Pemilik supermarket di Baghdad, Alaa-Eddin Sulaibi, memperkirakan porsi barang impor yang dijualnya kini merosot dari 90% menjadi 70%. Harga jualnya pun melonjak tajam antara 25% hingga 30%.

"Kami tidak punya pilihan selain menjual produk lokal, meskipun kualitasnya tidak sama dengan produk impor," tuturnya.

Dinar Irak Tembus 1.600 per Dolar AS di Pasar Paralel

Nilai tukar dinar Irak terhadap dolar AS di pasar paralel sempat menyentuh 1.600 dinar per dolar AS pekan lalu. Angka itu jauh di atas kurs resmi 1.300 dinar maupun kurs sebelum perang di level 1.540 dinar.

Di saat yang bersamaan, pemerintah Irak menghadapi pengetatan pasokan dolar AS. Pada bulan April, pemerintahan Presiden AS Donald Trump menangguhkan pengiriman uang tunai fisik dari rekening pendapatan minyak Irak di AS karena tekanan atas aktivitas milisi yang didukung Iran.

Pengiriman sempat dilanjutkan sebagian pada bulan Juli. Meski begitu, AS secara terbuka menuduh sejumlah bank swasta Irak terlibat dalam operasi penyelundupan dolar skala besar ke Iran.

Cadangan Devisa Anjlok US$ 26 Miliar dalam Hitungan Bulan

Bank Sentral Irak (CBI) membantah isu kekurangan dolar dan menyalahkan ekspektasi spekulasi pihak tertentu atas lonjakan nilai tukar di pasar paralel. Namun, Penasihat Keuangan PM Irak Mudher Mohammed Salih membeberkan fakta berbeda.

Ia mencatat cadangan devisa CBI telah anjlok dari sekitar US$ 106 miliar (Rp 1.886,8 triliun) sebelum perang menjadi hanya US$ 80 miliar (Rp 1.424 triliun) pada akhir Agustus.

Kelemahan Struktural Ekonomi Irak Terbuka

Peneliti ekonomi internasional di Anglia Ruskin University, Ziad al-Hashimi, menilai rentetan kekacauan ini menyingkap kelemahan struktural ekonomi Irak yang sudah berlangsung lama. Ketergantungan pada minyak dan barang asing menjadi akar persoalan.

"Krisis ini telah mengungkap ketidakseimbangan yang mendalam dalam struktur ekonomi Irak, yang paling menonjol adalah ketiadaan perlindungan yang mampu melindungi ekonomi di masa gejolak," paparnya.

"Semua yang dapat dilakukan pemerintah Irak adalah langkah-langkah jangka pendek yang mungkin hanya membatasi dampaknya di masa mendatang, seperti menggunakan pinjaman, yang bukan merupakan solusi sejati," pungkas Hashimi.

Sumber: cnbcindonesia.com

Follow lineperistiwa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks