Pencarian

Mentan Genjot Industri Bioetanol, Bidik Devisa Rp 500 Triliun per Tahun

Selasa, 22 September 2026 • 06:03:31 WIB
Mentan Genjot Industri Bioetanol, Bidik Devisa Rp 500 Triliun per Tahun
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memimpin rapat koordinasi percepatan pengembangan bioetanol bersama 44 bupati daerah sentra produksi di Jakarta, Senin.

LINEPERISTIWA.COM — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendorong kolaborasi BUMN dan swasta membangun industri bioetanol nasional dengan prioritas kepastian lahan dan investasi berkelanjutan. Pengembangan energi terbarukan berbasis komoditas pertanian ini diproyeksikan mampu menghemat devisa hingga Rp 500 triliun setiap tahun. Pemerintah menargetkan konsolidasi dimulai tahun ini dengan tebu, singkong, dan jagung sebagai bahan baku utama.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membuka rapat koordinasi percepatan pengembangan bioetanol bersama 44 bupati dari daerah sentra produksi di Jakarta, Senin. Rapat itu menjadi titik awal konsolidasi pemerintah untuk membangun ekosistem industri bioetanol nasional yang melibatkan BUMN dan swasta.

Amran menegaskan BUMN akan diprioritaskan lebih dulu, sebelum swasta masuk mengisi sisa kapasitas. Menurut dia, pemerintah ingin memastikan badan usaha negara mengambil peran maksimal di tahap awal pembangunan fasilitas pengolahan energi berbasis pertanian.

BUMN Didahulukan, Swasta Antre di Belakang

Dalam skema yang digariskan Mentan, BUMN diberi ruang lebih besar untuk menggarap industri bioetanol. Jika kapasitas BUMN sudah maksimal, barulah swasta dilibatkan.

"Itu swasta dan BUMN. BUMN kita upayakan, kita prioritaskan BUMN dulu. Kalau BUMN oke, sudah maksimal, bisa 30 persen, bisa 40 persen, bisa 50 persen. Pokoknya, berapa kemampuan BUMN, sesudah itu, swasta, dan swasta pasti antre," kata Amran.

Kepastian lahan disebut Amran sebagai faktor penentu minat investor. Tanpa jaminan lahan, pembangunan kawasan bioetanol berisiko molor. Dia merujuk pengalaman pembangunan 10 pabrik gula yang bisa rampung dalam tiga tahun karena lahannya dikawal negara.

"Kami pengalaman dulu 10 pabrik gula kami bangun kurang lebih 3 tahun. Kenapa? Lahannya dikawal oleh negara. Jadi, ini spesial," ujarnya.

Tebu, Singkong, dan Jagung Jadi Bahan Baku

Pemerintah mengarahkan pengembangan bioetanol pada tiga komoditas strategis pertanian: tebu, singkong, dan jagung. Ketiganya akan diolah menjadi energi terbarukan sehingga menciptakan nilai tambah di sektor hulu maupun hilir.

Selain soal lahan, pemerintah berjanji mengawal aspek legalitas sehingga proses investasi berjalan sesuai aturan dan memberi kepastian bagi pelaku usaha. Pendekatan itu diharapkan mempercepat masuknya investor swasta yang selama ini menunggu kejelasan regulasi dan lokasi.

Amran menilai prospek ekonomi bioetanol semakin menarik seiring meningkatnya kebutuhan energi terbarukan. Kolaborasi pemerintah, BUMN, dan swasta diyakini bisa mempercepat terbentuknya ekosistem industri bioetanol nasional.

Potensi Penghematan Devisa Rp 500 Triliun

Pengembangan bioetanol nasional berpotensi menghemat devisa hingga sekitar Rp 500 triliun setiap tahun. Angka itu berasal dari peralihan energi terbarukan yang selama ini diproduksi negara lain, sehingga nilai ekonominya bisa berputar di dalam negeri.

Bagi daerah sentra produksi, pembangunan industri ini membuka peluang baru. Petani tebu, singkong, dan jagung berpotensi mendapat pasar yang lebih pasti, sementara daerah memperoleh tambahan aktivitas ekonomi dari fasilitas pengolahan.

Pemerintah berharap investasi bersama tersebut memperkuat ketahanan energi sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru berbasis sektor pertanian.

"Kita baru mau mulai konsolidasi hari ini. Ini adalah titik awal hari ini. Ya, doakan, mudah-mudahan bisa mulai tahun ini," ucap Amran.

Keberhasilan skema ini akan bergantung pada seberapa cepat kepastian lahan dan legalitas diselesaikan. Tanpa itu, antrean investor swasta yang disebut Amran berpotensi tetap menunggu, dan target penghematan devisa Rp 500 triliun per tahun sulit terealisasi dalam waktu dekat.

Sumber: koran-jakarta.com

Follow lineperistiwa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks