LINEPERISTIWA.COM — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan ada satu negara lagi yang meminta impor beras dari Indonesia, menyusul pembukaan pasar ekspor beras RI. Nilai ekspor sektor pertanian 2025 disebut mencapai Rp166 triliun, sementara impor turun Rp41 triliun. Permintaan negara baru itu belum diungkap identitasnya dan masih menunggu pengumuman resmi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan permintaan tambahan tersebut dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (19/10). Menurut Amran, permintaan masuk melalui saluran telepon ke salah satu negara, tetapi ia belum menyebut nama negara maupun volume beras yang diminta.
"Ada lagi permintaan ekspor (beras) ke salah satu negara, tunggu aja beritanya besok atau lusa. Kemarin telepon salah satu negara meminta beras," ujar Amran.
Malaysia Sudah Sepakat, Singapura dan Arab Saudi Menyusul
Sebelumnya, Indonesia menyepakati ekspor 1.000 ton beras premium komersial ke Malaysia melalui kerja sama Perum Bulog dengan Padi dan Beras Borneo Sdn Bhd. Pengiriman dilakukan bertahap untuk memenuhi kebutuhan beras di Sarawak yang diperkirakan mencapai 200 ribu ton per tahun.
Pemerintah juga pernah mengusulkan ekspor minimal 10 ribu ton beras ke Singapura. Sementara rencana pengiriman 2.280 ton beras untuk konsumsi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi pada 2026 sempat menunggu asesmen keamanan dari sejumlah instansi terkait di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah.
Bukan Sekadar Swasembada, Amran Bangun Ekosistem Pangan
Amran menegaskan pemerintah tidak hanya mengejar swasembada beras. Menurutnya, yang sedang dibangun adalah ekosistem pangan yang menghubungkan produksi petani dengan kebutuhan industri dan pasar.
Salah satu caranya lewat skema penyerapan hasil panen jagung oleh peternak. Kelebihan produksi disalurkan ke Perum Bulog melalui sistem resi gudang. Pemerintah juga membahas pembangunan pabrik untuk menyerap kelebihan produksi telur ayam.
Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung melalui Bulog disiapkan mendukung kebutuhan pakan. Amran meminta Bulog mempercepat distribusinya.
Ekspor Rp166 Triliun, NTP di Titik Tertinggi
Kinerja perdagangan sektor pertanian diklaim membaik. Amran menyebut nilai ekspor pertanian 2025 mencapai Rp166 triliun, sedangkan impor turun Rp41 triliun.
"Ekspor kita naik 2025 itu Rp166 triliun, impor kita turun Rp41 triliun. Rp208 triliun tambahan nilai dengan kebijakan-kebijakan sektor pertanian," ujarnya.
Nilai Tukar Petani (NTP) disebut mencapai 131, angka tertinggi sepanjang sejarah. Amran mengaitkan capaian itu dengan penurunan harga pupuk sebesar 20 persen dan kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp6.500 per kilogram.
Apa Artinya bagi Pelaku Pasar Beras
Bagi pedagang dan eksportir, sinyal permintaan baru ini memperluas ceruk pasar selain Malaysia dan Singapura. Namun kepastian volume, harga, dan jadwal pengiriman belum ada karena pemerintah masih menahan detailnya.
Pelaku industri penggilingan perlu mencermati dampaknya terhadap serapan gabah dalam negeri. Ekspor yang tumbuh bisa menopang harga di tingkat petani, tetapi juga berisiko mengetatkan pasokan domestik bila produksi tidak ikut naik.
Bulog memegang peran kunci sebagai pelaksana penyerapan dan distribusi, termasuk untuk komoditas jagung dan program SPHP. Percepatan distribusi yang diminta Amran akan menjadi ujian pertama efisiensi rantai pasok pangan tahun ini.