Pencarian

Stok Beras 26 Juta Ton Cukup 10 Bulan, Mentan Amran Klaim El Nino Tak Ganggu Pasokan

Selasa, 15 September 2026 • 06:05:31 WIB
Stok Beras 26 Juta Ton Cukup 10 Bulan, Mentan Amran Klaim El Nino Tak Ganggu Pasokan
Menteri Pertanian Amran Sulaiman memaparkan proyeksi stok beras nasional dalam konferensi pers di Kantor Pusat Kementan, Jakarta Selatan.

LINEPERISTIWA.COM — Perhitungan stok tersebut tidak hanya bersumber dari gudang Bulog, melainkan gabungan dari tanaman yang masih berdiri di lahan (standing crop), cadangan di hotel dan restoran (horeka), serta persediaan rumah tangga di seluruh wilayah.

Rincian Komposisi Stok dan Kebutuhan Bulanan

Amran merinci bahwa komponen terbesar berasal dari standing crop atau padi yang belum dipanen, dengan volume sekitar 3,8 hingga 4 juta ton. Sisa pasokan berasal dari distribusi horeka dan stok rumah tangga yang tersebar di berbagai daerah.

Dengan rata-rata kebutuhan konsumsi beras nasional sebesar 2,6 juta ton per bulan, total ketersediaan 26 juta ton secara matematis mencukupi permintaan pasar hingga Juni atau Juli mendatang. Namun, Amran menekankan bahwa siklus panen berikutnya akan menutup celah tersebut lebih cepat.

  • Total Stok: 26 juta ton (termasuk standing crop, horeka, rumah tangga, dan Bulog)
  • Kebutuhan Konsumsi: 2,6 juta ton per bulan
  • Coverage Time: Sekitar 10 bulan ke depan
  • Puncak Panen Berikutnya: Maret 2025

El Nino Hanya Pengaruhi 50 Ribu Hektare Lahan

Terkait ancaman iklim ekstrem, data Kementerian Pertanian menunjukkan dampak kekeringan saat ini masih dalam batas terkendali. Luas lahan pertanian yang dilaporkan terdampak kekeringan diperkirakan berada di angka 50 ribu hektare.

"Kekeringan yang masuk, mungkin sekarang ya, estimasi (lahan pertanian yang terdampak ada) 50 ribuan hektare. Tapi itu masih posisi aman. Kita lihat dari BPS produksi kita masih aman," ujar Amran di Kantor Pusat Kementan, Jakarta Selatan, Senin (14/9).

Angka 50 ribu hektare tersebut dinilai kecil dibandingkan luas baku sawah nasional yang mencapai jutaan hektare. Oleh karena itu, pemerintah optimistis produksi gabah kering giling (GKG) secara nasional tidak akan mengalami penurunan drastis yang mengganggu ketahanan pangan.

Strategi Mitigasi: Pompanisasi dan Benih Tahan Kekeringan

Untuk menjaga produktivitas selama musim kemarau panjang, pemerintah memprioritaskan penanaman pada wilayah yang memiliki infrastruktur irigasi memadai. Saat ini, jaringan irigasi yang telah diperbaiki mencakup area seluas 3-4 juta hektare.

Selain perbaikan infrastruktur, intervensi teknis dilakukan melalui metode Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS). Petani juga difasilitasi benih varietas tahan kekeringan untuk meminimalisir risiko gagal panen.

Bantuan langsung diberikan kepada petani yang lahannya terpapar kekeringan parah. Paket bantuan meliputi pengolahan lahan gratis, penyediaan benih, alat mesin pertanian (alsintan), serta pompanisasi untuk sumber air alternatif.

"Yang kekeringan langsung kita bantu pengolahan dan benih. Jadi jangan biarkan petani jalan sendiri. Kita ada benih gratis, kemudian alat mesin pertanian gratis, bantu pompanisasi gratis," tegas Amran.

Jeda Waktu Sebelum Panen Raya Maret

Faktor kunci lain yang membuat proyeksi stok aman adalah waktu datangnya panen raya berikutnya. Amran memperkirakan puncak panen padi akan terjadi pada bulan Maret. Jeda waktu antara September hingga Februari dianggap cukup untuk menyerap stok yang ada tanpa memicu kelangkaan signifikan.

"Kalau (kebutuhan konsumsi) 2,6 juta per bulan, berarti (stok cukup untuk) 10 bulan, kan? 10 bulan ke depan, sekarang September, ya. Oktober, November, Desember, Januari, Februari, oh, overlap. Panen puncak di Maret lagi. Jadi aman," jelas mantan Kepala Badan Ketahanan Pangan tersebut.

Klaim ini menjadi sinyal bagi pelaku industri makanan dan minuman serta pedagang ritel bahwa tekanan harga beras kemungkinan besar tidak akan melonjak tajam dalam jangka pendek, meskipun sentimen global terkait perubahan iklim terus meningkat.

Sumber: cnnindonesia.com

Follow lineperistiwa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks