LINEPERISTIWA.COM — Robert E. Hall dari Stanford University dan Michael Woodford dari Columbia University menerima Nobel Ekonomi 2026 atas fondasi mikroekonomi bagi stabilisasi makroekonomi. Penghargaan itu menegaskan satu hal yang kerap luput di ruang rapat bank sentral: ekspektasi rumah tangga dan pelaku usaha kecil ikut menentukan arah inflasi, bukan hanya model di atas kertas.
Pengumuman pada 12 Oktober 2026 itu menempatkan dua nama yang sudah lama menjadi rujukan dunia akademik dan bank sentral. Hall dikenal lewat penelitian 1978 soal perilaku konsumsi rumah tangga, sementara Woodford lewat buku Interest and Prices (2003) yang menjadi pegangan banyak bank sentral modern.
Inti kontribusi keduanya: keputusan individu dan stabilitas ekonomi menyeluruh tidak bisa dipisahkan. Ibarat pohon dan hutan, perilaku setiap pohon ikut menentukan keadaan hutan.
Mengapa Hubungan Lama Antara Inflasi dan Pengangguran Tak Lagi Cukup
Selama beberapa dekade, ekonom bersandar pada hubungan yang dianggap stabil antara pendapatan dan konsumsi, pengangguran dan inflasi, serta suku bunga dan investasi. Stagflasi 1970-an meruntuhkan keyakinan itu ketika inflasi dan pengangguran naik bersamaan.
Manusia ternyata bukan koefisien tetap dalam persamaan ekonomi. Perilaku mereka berubah ketika keadaan dan kebijakan bergeser. Temuan Hall pada 1978 menunjukkan konsumsi rumah tangga dipengaruhi perkiraan sumber daya sepanjang hidup, bukan semata penghasilan hari ini. Bonus sementara dan kenaikan gaji permanen tidak selalu memicu respons belanja yang sama.
Ekspektasi sebagai Instrumen Kebijakan
Woodford membawa logika berorientasi masa depan itu ke dalam kebijakan moneter. Salah satu gagasannya: kebijakan moneter bekerja bukan hanya lewat suku bunga, tetapi juga lewat ekspektasi.
Jika bank sentral secara kredibel menyatakan suku bunga akan tetap tinggi sampai inflasi terkendali, rumah tangga dan dunia usaha dapat menyesuaikan keputusan sebelum rapat berikutnya. Inilah landasan forward guidance, ketika komunikasi menjadi bagian dari kebijakan itu sendiri.
Di Bank Indonesia, istilah yang beredar di kalangan internal menyebut dua jenis operasi: operasi pasar terbuka yang mengelola likuiditas lewat transaksi, dan "operasi mulut terbuka" yang berusaha memengaruhi ekspektasi lewat komunikasi. Yang kedua menuntut sesuatu yang jauh lebih sulit diperoleh: kepercayaan.
Dua Bank Sentral, Pernyataan Sama, Respons Pasar Berbeda
Bayangkan dua bank sentral menyampaikan pernyataan identik. Yang satu punya rekam jejak konsisten dan mandat jelas. Yang lain kerap mengubah pesan dan menghadapi ketidakpastian soal batas tanggung jawabnya. Respons pasar tentu bisa berbeda.
Lingkungan ekonomi ikut menentukan. Bank sentral di negara berkembang menghadapi arus modal yang mudah berbalik dan tekanan nilai tukar. Buku pegangan menawarkan kerangka yang sama, tetapi tidak menjamin setiap dapur punya bahan dan kondisi yang setara.
Sudut Pandang Polanyi: Pasar Melekat pada Masyarakat
Karl Polanyi menawarkan sudut pandang lain lewat The Great Transformation (1944). Kegiatan ekonomi, menurut dia, melekat pada hubungan sosial, institusi, dan pengalaman sejarah. Pasar tidak berdiri terpisah dari masyarakat.
Woodford menjelaskan bagaimana ekspektasi memengaruhi perekonomian. Polanyi mengajak bertanya bagaimana ekspektasi itu terbentuk dan mengapa masyarakat bersedia mempercayai suatu institusi. Pohon membentuk hutan, tetapi hutan juga menentukan bagaimana pohon tumbuh.
Yang Tidak Selalu Terlihat di Angka Agregat
Bagi Indonesia, persoalan ini nyata. Bank Indonesia dapat menyatakan rupiah stabil sesuai fundamental, dan penilaian itu mungkin dapat dipertanggungjawabkan secara analitis. Namun importir yang menghadapi kenaikan biaya, investor yang menimbang risiko, dan keluarga yang makin sulit mempertahankan kualitas makanan tidak selalu merasakan stabilitas yang sama.
Kompas menghitung indeks ayam goreng, yakni berapa lama pekerja di 34 kota harus bekerja untuk membeli seporsinya. Ukuran semacam itu menangkap pengalaman yang sering luput dari angka agregat.
Laju inflasi yang melambat tidak otomatis mengembalikan harga ke tingkat sebelumnya. BI-Rate tidak dapat membuat ayam bertelur lebih banyak atau cabai panen lebih cepat. Kebijakan moneter memengaruhi permintaan, pembiayaan, dan ekspektasi, tetapi tidak langsung menambah pasokan pangan.
Komunikasi yang Harus Menjangkau Lebih Jauh
Karena itu, komunikasi moneter perlu menjangkau lebih jauh daripada pasar keuangan. Bank sentral perlu memahami bagaimana rumah tangga dan pelaku usaha kecil menafsirkan pesannya, sebab di situlah ekspektasi terbentuk dan kepercayaan diuji.