Pencarian

CEO Broadcom Hock Tan: Investor AI Berinvestasi Seperti Berjudi di Kasino

Selasa, 13 Oktober 2026 • 06:22:01 WIB
CEO Broadcom Hock Tan: Investor AI Berinvestasi Seperti Berjudi di Kasino
CEO Broadcom Hock Tan berbicara dalam diskusi panel di acara DBS Asia Future Forward 2026 di Singapura, Senin (12/10).

LINEPERISTIWA.COM — CEO Broadcom Hock Tan menilai banyak investor kecerdasan buatan (AI) menetapkan ekspektasi ekstrem tanpa memahami bisnis yang didanai, sehingga perilaku mereka menyerupai penjudi di kasino. Peringatan itu disampaikan di tengah derasnya arus modal ke sektor AI yang harga sahamnya melonjak dalam beberapa tahun terakhir.

Pernyataan tersebut disampaikan Hock Tan dalam diskusi panel bersama CEO DBS Bank Tan Su Shan dan CEO Intel Corporation Lip-Bu Tan pada acara DBS Asia Future Forward 2026 di Singapura, Senin (12/10). Forum itu membahas prospek pertumbuhan industri AI, kebutuhan infrastruktur komputasi, hingga kemampuan perusahaan AI mencetak pendapatan.

Menurut Hock, sebagian investor memiliki ekspektasi yang sangat ekstrem terhadap perusahaan AI, tetapi belum tentu memahami bisnis dan teknologi yang menjadi dasar investasi mereka. Mereka bisa cepat masuk, lalu cepat pula menarik dana, tanpa benar-benar mengenali aset yang dimiliki.

"Banyak investor yang berinvestasi di AI tidak memahami apa yang mereka investasikan. Mereka menetapkan ekspektasi yang sangat ekstrem, hanya untuk mendapati bahwa situasinya hampir seperti berjudi di kasino," kata Hock Tan.

OpenAI Jadi Contoh, ARR US$ 50 Miliar tapi Masih Merugi

Hock tidak menilai potensi bisnis AI sepenuhnya negatif. Ia mencontohkan OpenAI yang mencatat pendapatan tahunan disetahunkan atau annualized revenue run rate (ARR) sekitar US$ 50 miliar pada September. Angka itu, menurut dia, tidak terlalu buruk untuk ukuran startup.

"OpenAI mencatat pendapatan tahunan yang disetahunkan atau annualized revenue run rate (ARR) sekitar US$ 50 miliar pada September. Menurut saya, angka itu sendiri tidak terlalu buruk," ujarnya.

Meski begitu, Hock mengingatkan OpenAI masih merugi karena besarnya pengeluaran untuk melatih model AI. Kondisi itu bisa berubah seiring peningkatan skala bisnis, tetapi belum cukup untuk memastikan kinerja bisnis AI ke depan.

"Jadi, entahlah. Angka itu tidak memberikan informasi spesifik, selain fakta bahwa model bisnis ini layak dijalankan saat ini," tambahnya.

Keberlanjutan AI Tak Cukup Ditopang Penjualan Cip

Hock menekankan keberlanjutan industri AI tidak cukup hanya ditopang penjualan perangkat keras seperti cip dan memori. Perusahaan pengembang model AI perlu menciptakan nilai ekonomi yang dapat mendukung pertumbuhan bisnis mereka.

Ia mencontohkan Anthropic dan OpenAI, serta pengembangan model Gemini oleh Google, sebagai pemain yang berpotensi menciptakan nilai melalui model AI terdepan. Biaya infrastruktur komputasi, menurut dia, perlu dibandingkan dengan nilai yang dihasilkan produk AI.

"Pada saat ini, hal itu menunjukkan bahwa ada potensi pertumbuhan pendapatan yang besar dari penyediaan AI generatif terdepan dan model-model terdepan," kata Hock.

Intel Soroti Konsentrasi Pertumbuhan dan Model AI China

CEO Intel Lip-Bu Tan menyoroti konsentrasi pertumbuhan AI pada sejumlah perusahaan. Kondisi ketika sebagian besar pertumbuhan terkonsentrasi pada dua perusahaan berpotensi menimbulkan risiko.

Lip-Bu Tan juga menyinggung model AI dari China yang menawarkan biaya penggunaan token lebih rendah, seperti DeepSeek dan Kimi. Menurut dia, kinerja model-model itu sudah cukup baik untuk sejumlah kebutuhan.

Ia menyatakan dukungan terhadap pendekatan open source karena dinilai dapat mendorong efisiensi. Pemilihan model AI pada akhirnya bergantung pada aplikasi dan kebutuhan pekerjaan yang hendak diselesaikan.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Industri

Pandangan kedua CEO menunjukkan prospek industri AI tidak hanya ditentukan besarnya permintaan infrastruktur dan investasi. Kemampuan perusahaan mengendalikan biaya, menghasilkan nilai ekonomi, serta membangun model bisnis yang berkelanjutan menjadi faktor penentu.

Bagi investor, peringatan Hock Tan menjadi pengingat bahwa lonjakan harga saham emiten terkait AI tidak otomatis mencerminkan fundamental yang sehat. Pendapatan besar sekalipun, seperti yang dibukukan OpenAI, belum menjamin profitabilitas jika biaya pelatihan model terus membengkak.

Sumber: katadata.co.id

Follow lineperistiwa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks