Kurs rupiah diperdagangkan tenang pada pembukaan pasar uang domestik, Jumat (21/8). Posisi Rp17.748 per dolar AS yang bertahan dari penutupan sebelumnya mengindikasikan pelaku pasar masih wait and see menjelang publikasi data makroekonomi penting.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengonfirmasi bahwa pasar tengah mencermati rilis indikator tersebut. "Bank Indonesia dijadwalkan merilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2Q26 hari ini," jelasnya dalam keterangan proyeksi pasar.
Defisit Transaksi Berjalan Diprediksi Melebar Hampir Tiga Kali Lipat
Tekanan terhadap transaksi berjalan Indonesia diproyeksikan meningkat signifikan pada kuartal kedua tahun ini. Estimasi analis menunjukkan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) berpotensi melonjak ke angka 3,09 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan capaian kuartal I-2026 yang tercatat di posisi 1,09 persen dari PDB. Pelebaran defisit ini menjadi faktor utama yang menahan laju penguatan rupiah dalam beberapa pekan terakhir.
Tiga Faktor Penahan Penguatan Rupiah3>
Setidaknya ada tiga pemicu utama yang membebani pergerakan nilai tukar rupiah saat ini:
- Musim pembayaran imbal hasil: Lonjakan pembayaran imbal hasil atas aset domestik kepada investor non-residen yang rutin terjadi secara musiman.
- Kinerja neraca barang melemah: Tekanan bertambah akibat catatan defisit neraca perdagangan selama periode Mei dan Juni 2026.
- Aktivitas pasar keuangan global: Pelaku pasar cenderung membatasi posisi transaksi besar sebelum angka resmi NPI terpublikasi.
Buyback Surat Utang AS Beri Angin Segar bagi Mata Uang Negara Berkembang
Dari eksternal, kondisi pasar sedikit memberikan ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang. Pemerintah Amerika Serikat meluncurkan program pembelian kembali (buyback) surat utang jangka panjang sebagai respons atas lonjakan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun yang sempat menyentuh titik tertinggi dalam 20 bulan terakhir.
Kebijakan tersebut otomatis mengikis daya tarik dolar AS di mata investor global karena menekan imbal hasil obligasi. Kombinasi faktor domestik dan dinamika luar negeri ini memicu proyeksi bahwa pergerakan rupiah hari ini akan bergerak moderat dalam rentang Rp17.700 hingga Rp17.825 per dolar AS.
Investasi mengandung risiko.