Pencarian

Penyewa Chevy Bolt Ditagih Rp 6,7 Juta untuk Cas 44 Menit di Charger Dealer Hyundai

Rabu, 02 September 2026 • 12:06:31 WIB
Penyewa Chevy Bolt Ditagih Rp 6,7 Juta untuk Cas 44 Menit di Charger Dealer Hyundai
Penyewa mobil listrik asing di Michigan, Stanley Kpenkann, menerima tagihan pengisian daya sebesar US$418 atau sekitar Rp6,7 juta selama 44 menit di charger publik milik diler Elder Hyundai.

LINEPERISTIWA.COM — Stanley Kpenkann adalah pemakai mobil listrik asing di Michigan yang membuka aplikasi EVgo ketika baterai kendaraan sewanya tinggal "menyisakan 20 menit". Aplikasi mengarahkannya ke stasiun terdekat yang muncul: fasilitas pengisian milik Elder Hyundai. Diler mobil sering menempatkan charger yang bisa dipakai publik di halamannya, dan pelanggan umum biasanya tidak akan mengalami masalah saat memakainya. Kpenkann pun mengira begitu.

Saat mencabut kabel setelah 44 menit, notifikasi yang muncul justru biaya US$418. Angka itu memicu asumsi awal bahwa ada kesalahan sistem, sebelum EVgo memastikan tagihan memang valid: charger menampilkan tarif US$5 per kWh dan US$5 per menit. Rupanya ini bukan harga tipe layanan premium, melainkan batas atas yang disengaja.

31 Kali Lipat Tarif Normal yang Tidak Pernah Dilihat Konsumen

Angka tarif di atas hampir mustahil ditemukan di stasiun publik mana pun. Dengan kurs sekitar Rp 16.000 per dolar AS, sebulan berlangganan biaya cas sekali mengisi bisa lebih murah daripada denda keterlambatan. EVgo menghitung biaya normal sesi yang sama lewat paket berlangganan Kpenkann hanya sekitar US$13,27—atau kurang lebih Rp 212 ribu. Bandingkan dengan US$418: selisihnya menjadi 31 kali lipat.

"Kamu tidak masuk ke pom bensin yang rata-rata harga bensinnya 4 dolar, lalu mendadak ditagih 25 dolar per galon," kata Kpenkann kepada WXYZ Detroit, stasiun televisi lokal ABC. Dia mengaku tidak sempat melihat papan tarif di layar charger, dengan asumsi tarif publik selalu masuk akal.

Diler Boleh Pasang Tarif Sewenang-wenang, EVgo Hanya sebagai Perantara

Perwakilan Elder Hyundai mempertahankan bahwa Kpenkann memakai charger yang sebenarnya disediakan untuk kendaraan pelanggan sendiri. Namun, pada saat yang sama stasiun tersebut muncul di aplikasi EVgo publik karena perjanjian roaming antara EVgo dan ChargePoint, nama yang terpampang di unit. Keadaan ini membuka interpretasi bahwa dealer bisa menolak orang luar tanpa secara teknis menutup akses publiknya.

"Roaming aktif di lokasi diler Hyundai di Macomb dan pengemudi memang dapat mengisi daya lewat akun EVgo. Semua harga ditentukan oleh dealer selaku pemilik stasiun," ujar juru bicara EVgo seperti dikutip WXYZ. Kpenkann menilai argumen itu tidak masuk akal, "Jika dealer tidak ingin dipakai orang lain untuk keperluan pribadi, buat privat saja, jangan publik."

Untuk konsumen EV, kejadian ini membuka pelajaran penting: layar charger dan aplikasi bisa menampilkan biaya dalam satuan kecil, tetapi perkalian per menit atau per kWh bisa berubah drastis bila operatornya adalah pemilik lahan yang sengaja memasang tarif "penangkal".

Media Lokal Menjadi Jalan Keluar, Refund Rp 6,5 Juta Diberikan

Setelah kasus ini ramai diberitakan WXYZ, EVgo memberikan "goodwill refund" US$405 kepada Kpenkann. Sisa tagihan senilai US$13,27 disebut sudah sesuai dengan biaya normal berlangganan, yang berarti Kpenkann akhirnya membayar harga wajar seperti pengguna lain. Namun, tanpa intervensi media, tagihan US$418 itu harus lunas dari kantong pribadinya.

Kisah ini menjadi pengingat adanya perbedaan besar antara sewa mobil listrik dan kepemilikan. Penyewa mobil biasa tidak akan bisa meneliti kebijakan tarif masing-masing diler ketika baterai sudah menipis, dan perjanjian roaming justru membuat aplikasi populer menampilkan stasiun yang tarifnya tidak masuk akal untuk non-pelanggan. EVgo sendiri menegaskan tidak ikut campur dalam besaran harga karena kewenangan penuh berada di pemilik lahan.

Sumber: jalopnik.com

Follow lineperistiwa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks