LINEPERISTIWA.COM — Komando Pusat AS (U.S. Central Command) membenarkan telah melancarkan serangan udara terhadap target-target di Iran. Langkah ini merupakan respons atas upaya Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang menargetkan pelayaran komersial di Selat Hormuz serta personel militer Amerika di kawasan tersebut.
Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Panas Konflik
IRGC merespons dengan menegaskan bahwa serangan AS akan semakin membatasi lalu lintas di Selat Hormuz. Jalur perairan strategis ini sebelumnya membawa sekitar seperlima dari konsumsi minyak global, dan kini Iran telah menutupnya untuk pelayaran komersial.
Serangan balasan pun dilancarkan ke pangkalan militer AS di Yordania menggunakan rudal balistik. Militer Yordania mengonfirmasi sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 10 dari 13 rudal yang memasuki wilayah udara mereka.
Tankter Jadi Sasaran, Pasokan Mulai Terganggu
Ketegangan ini merupakan buntut dari serangan terhadap dua kapal tanker yang berangkat dari Selat Hormuz pada Senin lalu. Gangguan pasokan yang ditimbulkan mendorong pelaku usaha di sektor minyak mencari rute alternatif untuk pengiriman minyak mentah.
Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 2,6 juta barel pada pekan yang berakhir 28 Agustus. Adapun persediaan produk sulingan, yang mencakup diesel dan minyak pemanas, juga mencatatkan penurunan 265 ribu barel.
Lonjakan Terbesar dalam Sebulan Terakhir
Kenaikan harga pada sesi Rabu merupakan kelanjutan dari reli signifikan sehari sebelumnya. Pada Selasa (1/9), kedua kontrak berjangka melonjak lebih dari US$4, mencatatkan penguatan terbesar untuk Brent sejak 24 Juli dan WTI sejak 23 Juli.
Pejabat AS menyatakan belum ada laporan korban dari pihak Amerika akibat serangan roket yang dilancarkan IRGC. Sementara itu, Kuwait menyebut angkatan bersenjatanya telah merespons aktivitas pesawat nirawak yang dianggap bermusuhan di wilayahnya.