Pencarian

Iran Pastikan Ekspor Minyak Tetap Berjalan Meski Blokade Laut AS, Penjualan Justru Menjangkau Pelanggan Jauh

Jumat, 28 Agustus 2026 • 08:23:00 WIB
Iran Pastikan Ekspor Minyak Tetap Berjalan Meski Blokade Laut AS, Penjualan Justru Menjangkau Pelanggan Jauh
Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad menyampaikan bahwa ekspor minyak negaranya tetap berjalan meskipun menghadapi blokade laut dari Amerika Serikat.

TEHERAN — Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad membantah anggapan bahwa ekspor minyak negaranya lumpuh total akibat blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat. Ia menegaskan proses penjualan minyak masih berlangsung dan justru mampu menjangkau pembeli di wilayah yang jauh dari perairan teritorial Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Paknejad kepada media daring Jamaran pada Kamis. Ia mengakui adanya penurunan volume penjualan setelah blokade laut kembali diberlakukan, namun enggan membeberkan rincian angka penurunan tersebut.

Alasan Pemerintah Iran Rahasiakan Data Volume Ekspor

Paknejad beralasan, kerahasiaan data ini dijaga ketat karena informasi tersebut berpotensi disalahgunakan oleh pihak lawan. "Musuh dapat menyalahgunakan informasi tersebut," ujarnya, menegaskan bahwa detail operasional ekspor menjadi bagian dari strategi nasional yang tidak bisa dipublikasikan secara terbuka.

Pernyataan menteri ini sekaligus menjawab kekhawatiran yang sebelumnya dilontarkan Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati. Sebelumnya, Hemmati menyebut bahwa ekspor minyak Iran nyaris terhenti akibat kondisi yang sedang terjadi di kawasan tersebut.

Kronologi Konflik dan Blokade di Selat Hormuz

Ketegangan di kawasan mencapai titik puncak sejak 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel mulai melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, yang kemudian dibalas oleh serangan balasan dari pihak Iran. Sempat terjadi harapan damai pada pertengahan Juni ketika kedua negara menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan, namun kesepakatan itu gagal bertahan lama.

Konflik kembali memanas dan memuncak pada 12 Juli, saat Iran secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk protes keras atas intervensi AS di kawasan, dan diumumkan setelah adanya gelombang serangan balasan baru antara pihak-pihak yang terlibat konflik.

Respons AS: Trump Siap Jadi Penjaga Selat

Menanggapi langkah tegas Iran, Presiden AS Donald Trump langsung mengambil sikap dengan menyatakan pihaknya akan menjadi "penjaga" Selat Hormuz. Tak hanya itu, Trump juga memberlakukan kembali blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sebuah kebijakan yang kini diakui oleh Teheran telah menekan volume ekspor mereka.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran paling strategis di dunia, yang mengangkut sekitar seperlima dari total konsumsi minyak global. Penutupan selat tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia dan memicu gejolak harga minyak mentah internasional.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari pihak Iran mengenai langkah antisipasi untuk menjaga kelancaran distribusi minyak ke pelanggan setianya di tengah tekanan blokade yang terus berlanjut.

Sumber: gorontalo.antaranews.com

Follow lineperistiwa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks