LINEPERISTIWA.COM — PT Bach Multi Global Tbk (BACH) menaikkan plafon fasilitas omnibus dari BTPN sebesar Rp100 miliar, dari Rp150 miliar menjadi Rp250 miliar. Penambahan plafon itu membuat total fasilitas pinjaman perbankan perseroan menjadi Rp350 miliar. Fasilitas anyar ini dipakai untuk menopang kegiatan usaha BACH dan anak usahanya.
Penambahan plafon tersebut dituangkan dalam Perubahan Ketiga atas Perjanjian Fasilitas pada 23 Oktober 2026. Transaksi melibatkan BACH bersama anak usahanya, PT Bach Multi Infrastruktur (BMI), dengan jangka waktu fasilitas hingga 29 Oktober 2027.
Dengan perubahan terbaru, plafon fasilitas omnibus BACH naik Rp100 miliar dari posisi sebelumnya Rp150 miliar menjadi Rp250 miliar. Total keseluruhan fasilitas pinjaman perbankan yang diterima perseroan pun mencapai Rp350 miliar.
Dukungan Pendanaan untuk Kegiatan Usaha
Manajemen BACH menyatakan perpanjangan tenor dan peningkatan fasilitas kredit akan memberi dukungan pendanaan untuk menunjang kegiatan usaha perseroan. Fasilitas berjangka ini memberi ruang likuiditas hingga Oktober 2027.
BMI merupakan anak usaha BACH dengan kepemilikan saham langsung sebesar 99,999 persen. Keterlibatan BMI dalam perjanjian menunjukkan fasilitas kredit menyentuh lini infrastruktur kelompok usaha, bukan hanya entitas induk.
Rincian Perubahan Fasilitas
- Plafon fasilitas omnibus sebelumnya: Rp150 miliar
- Penambahan plafon: Rp100 miliar
- Plafon fasilitas omnibus baru: Rp250 miliar
- Total fasilitas pinjaman perbankan: Rp350 miliar
- Jangka waktu fasilitas: hingga 29 Oktober 2027
Perubahan perjanjian diteken 23 Oktober 2026, dengan BACH dan BMI sebagai pihak dalam transaksi. Perpanjangan tenor memberi perseroan kepastian jadwal pelunasan lebih panjang dibanding perjanjian sebelumnya.
Apa Artinya bagi Pemegang Saham
Penambahan plafon kredit menandakan kebutuhan modal kerja dan belanja usaha BACH masih bertumbuh. Bagi investor, fasilitas yang lebih besar memberi keleluasaan ekspansi, tetapi sekaligus menambah beban bunga dan kewajiban yang harus dijaga rasio keuangannya.
Perlu dicermati bagaimana perseroan mengelola beban pendanaan baru terhadap arus kas operasi. Tanpa pendapatan yang tumbuh sepadan, kenaikan plafon kredit bisa menekan margin bersih ke depan.