LINEPERISTIWA.COM — Cuaca panas yang melanda Kalimantan dalam beberapa pekan terakhir membuat sejumlah titik api bermunculan di area yang berdekatan dengan fasilitas operasi migas milik Pertamina. Anak usaha PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) pun bergerak memadamkan api sekaligus mencegah meluasnya kebakaran ke permukiman dan lahan warga.
Pemadaman di Tiga Wilayah: dari Samboja hingga Bunyu
Tim Emergency Intervention Team (EIT) South Processing Station (SPS) milik PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) bersama Damkar Samboja berhasil menjinakkan titik api yang berada sekitar 100 meter dari fasilitas Lapangan Senipah, Peciko, dan South Mahakam pada Kamis (20/8).
Keesokan harinya, PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) turun ke Muara Badak, Kutai Kartanegara, dekat area Nilam Field. Tim menerjunkan fire truck advancer dan vacuum truck berkapasitas 15 ribu hingga 24 ribu liter air untuk mengendalikan rambatan api.
Sementara itu, PT Pertamina EP (PEP) Bunyu memadamkan kebakaran di Jalan Lingkar Bunyu, Kalimantan Utara, yang berjarak sekitar 14,1 kilometer dari area operasi. Penanganan dilakukan bersama Tim Damkar Kalimantan Utara.
Edukasi Warga Jadi Benteng Pencegahan
Selain pemadaman, PHI memperkuat langkah preventif dengan melibatkan masyarakat. Tim Community Based Security PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) menggelar sosialisasi bahaya karhutla di Kelurahan Lawe-Lawe pada 19–23 Agustus, menyasar warga yang bermukim sekitar sembilan kilometer dari Terminal Lawe-Lawe.
Di Tarakan, PT Pertamina EP (PEP) Tarakan berkolaborasi dengan BPBD Provinsi Kalimantan Utara dan BPBD Kota Tarakan untuk melatih relawan penanganan bencana di Kecamatan Tarakan Timur. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan warga menghadapi potensi kebakaran lahan.
Tantangan Api di Bawah Permukaan Tanah
Direktur Utama PHI Muharram Jaya Panguriseng menyampaikan empati kepada masyarakat terdampak. "Upaya dan prioritas perusahaan dalam menghadapi karhutla ini semata-mata untuk memastikan perlindungan bagi pekerja, fasilitas, masyarakat, dan lingkungan," katanya dalam keterangan resmi, Kamis (27/8).
Manager Communication Relations & CID PHI Dony Indrawan menjelaskan, tantangan terbesar di lapangan bukan hanya memadamkan api di permukaan. Suhu yang mencapai 36 derajat Celsius membuat vegetasi kering mudah terbakar, sementara api di lahan gambut bisa bertahan di bawah tanah dan muncul kembali jika proses pembasahan belum tuntas.
"Tantangannya tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga pencegahan dan pengendalian agar api tidak kembali meluas," ujar Dony.
PHI menilai kolaborasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan operasi hulu migas di Kalimantan. "Kami mengapresiasi seluruh pihak yang terus bekerja di lapangan. Kolaborasi seperti ini sangat penting untuk memastikan keselamatan pekerja dan masyarakat sekaligus melindungi lingkungan," kata Dony.
Langkah penanganan karhutla ini sejalan dengan komitmen perusahaan menjaga produksi minyak dan gas bumi demi ketahanan energi nasional. PHI juga terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan sesuai kewenangan yang berlaku dalam setiap proses pemadaman dan pencegahan.