Gugatan yang diajukan oleh Clarkson Law Firm pada Kamis lalu ini menargetkan praktik pemasaran Oura yang disebut "dibangun untuk akurasi" dan menawarkan "akurasi yang tak tertandingi". Firma hukum tersebut menuntut Oura berhenti mengiklankan kemampuan yang tidak dimiliki perangkatnya, serta meminta restitusi bagi konsumen yang membeli produk berdasarkan klaim tersebut.
Klaim Akurasi 95% yang Dipertanyakan
Dalam dokumen gugatan, disebutkan bahwa Oura memasarkan produknya dengan harga mulai dari US$300 (sekitar Rp 5 juta) dan mengklaim cincinnya mampu mendeteksi empat tahapan tidur seperti yang dilakukan di laboratorium tidur rumah sakit. Padahal, menurut gugatan, penentuan tahap tidur yang akurat memerlukan elektroda di kulit kepala dan sensor di mata, yang hanya tersedia di lingkungan klinis.
Oura sebelumnya mengklaim perangkatnya mencapai akurasi 79 persen dalam pengukuran, dan belakangan menyebut angka 95 persen untuk akurasi penentuan tahap tidur dibandingkan dengan laboratorium tidur klinis. Penggugat menilai klaim tersebut tidak berdasar karena "tidur terjadi di otak, bukan di jari seseorang".
Kronologi: Keluhan Pengguna Bertahun-tahun
Gugatan ini muncul setelah bertahun-tahun pengguna Oura mengungkapkan frustrasi mereka di internet. Sebagian pengguna melaporkan merasa tidur mereka buruk, tetapi aplikasi justru menampilkan kualitas tidur yang optimal. Keraguan juga muncul terkait kemampuan perangkat untuk memantau dan mendeteksi siklus tidur secara akurat.
Gugatan tersebut menuduh Oura mengandalkan perkiraan yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) yang peluang benarnya "hanya sebesar lemparan koin". Tuduhan ini semakin memperkuat keraguan publik terhadap keandalan metrik tidur yang ditampilkan perangkat wearable di pasaran.
Kutipan Penggugat: Informasi Kesehatan yang Menyesatkan Berbahaya
"Ketika orang mengandalkan perangkat untuk memandu keputusan tentang kesehatan mereka, informasi yang salah tidak dapat ditoleransi," ujar Ryan Clarkson, salah satu pendiri dan mitra pengelola Clarkson Law Firm, dalam siaran persnya.
"Pengguna Oura percaya bahwa angka di layar mereka mencerminkan kenyataan. Orang-orang mengatur hari mereka, menafsirkan perasaan mereka, dan merancang kehidupan mereka di sekitar angka-angka yang tidak akurat yang dimuntahkan oleh perangkat ini," tambahnya.
Implikasi bagi Pengguna Wearable di Indonesia
Perkembangan kasus ini menjadi pengingat penting bagi pengguna perangkat wearable di Indonesia untuk tidak menjadikan metrik tidur dari cincin pintar atau smartwatch sebagai satu-satunya acuan kondisi kesehatan. Data dari perangkat konsumen sebaiknya digunakan sebagai referensi tren umum, bukan