Setelah menguji AMD Ryzen 7 7700X3D, kesimpulannya bukan soal chip mana yang tercepat murni untuk frame rate. Justru pertanyaannya bergeser ke mana nilai terbaik untuk uang yang kamu keluarkan, terutama di kelas prosesor budget yang jadi incaran gamer Indonesia yang ingin merakit PC baru.
Memang, jajaran prosesor 3D V-Cache AMD tetap juara mutlak untuk performa gaming murni. Ryzen 7 7800X3D dan pendatang baru Ryzen 7 7700X3D terbukti sangat kencang di berbagai judul game. Namun, setelah melihat data benchmark dan banderol harga, posisi Intel Core Ultra 5 250K Plus sebagai penantang serius tidak bisa diabaikan.
Masalah Harga: 7700X3D Kalah Bersaing dengan "Kakaknya" Sendiri
Ryzen 7 7700X3D pada dasarnya adalah Ryzen 7 7800X3D dengan clock lebih rendah. AMD membanderolnya di USD 329 (sekitar Rp 5,3 juta), jauh di bawah harga rilis 7800X3D yang USD 450 (sekitar Rp 7,3 juta). Namun, karena 7800X3D sudah lama beredar di pasaran, harga ritelnya sering kali turun drastis.
Akibatnya, di toko ritel, harga keduanya seringkali sama. Bahkan, tidak jarang Ryzen 7 7800X3D yang lebih bertenaga justru ditemukan lebih murah daripada 7700X3D. Ini membuat nilai jual 7700X3D sebagai opsi "hemat" menjadi dipertanyakan, kecuali kamu memang sudah memiliki motherboard AM5 dan ingin upgrade CPU tanpa ganti platform.
Intel Core Ultra 5 250K Plus: Performa Gaming Hampir Sama, Jauh Lebih Murah
Jika kamu membangun PC dari nol, ceritanya berbeda. Intel Core Ultra 5 250K Plus hadir dengan harga hanya USD 200 (sekitar Rp 3,2 juta). Dengan selisih USD 130 (sekitar Rp 2,1 juta), kamu bisa mengalokasikan dana tersebut untuk membeli GPU yang lebih tinggi satu tingkat.
Dalam pengujian gaming 1080p, performa Intel ini sangat mengejutkan. Di Cyberpunk 2077 dengan setting RT Ultra dan DLSS Balanced, Core Ultra 5 250K Plus mencatat 118 fps, mengungguli 7700X3D yang hanya 112 fps. Bahkan di Total War: Warhammer 3, prosesor Intel ini jauh lebih unggul dengan 174 fps berbanding 152 fps.
Keunggulan Intel juga terlihat di Baldur's Gate 3 dan Homeworld 3, meski selisihnya tipis. Yang lebih penting, angka 1% Low fps pada chip Intel cenderung lebih stabil dan tinggi, yang berarti pengalaman bermain lebih mulus tanpa drop frame yang mengganggu di momen-momen krusial.
Keunggulan Komputasi yang Jauh di Atas untuk Pekerjaan Lain
Di luar gaming, keunggulan Core Ultra 5 250K Plus sangat telak. Dengan konfigurasi 6 P-core dan 12 E-core (total 18 thread), prosesor ini menghancurkan kompetitor AMD dalam tugas produktivitas. Di benchmark Cinebench 2024, skor multi-core-nya mencapai 1.817 poin, sementara 7700X3D hanya 1.011 poin.
Performa ini juga terlihat di Blender 4.2.0, di mana chip Intel mencapai 132 sampel per menit berbanding 79 sampel per menit milik AMD. Untuk gamer yang juga melakukan rendering video, streaming, atau editing, prosesor Intel jelas menawarkan nilai lebih besar untuk uang yang sama.
Pertimbangan Masa Depan: Soket AM5 vs LGA 1851
Satu hal yang membuat AMD tetap menarik adalah umur panjang platform AM5. AMD berkomitmen mendukung soket ini hingga 2029, bahkan merayakan 10 tahun umur pemakaian AM4. Ini berarti kamu bisa upgrade CPU di masa depan tanpa harus ganti motherboard.
Di sisi lain, Intel masih mengganti soket hampir setiap generasi. Soket LGA 1851 yang dipakai Core Ultra 5 250K Plus adalah jalan buntu—upgrade ke generasi prosesor berikutnya hampir pasti membutuhkan motherboard baru. Namun, penting untuk jujur pada diri sendiri: seberapa sering kamu benar-benar melakukan upgrade CPU di tempat?
Mayoritas gamer tidak pernah menyentuh bagian tersebut, dan lebih memilih upgrade GPU atau menambah SSD. Jika itu juga pola kamu, maka menghemat uang di awal untuk membeli GPU yang lebih baik adalah keputusan yang jauh lebih logis daripada membayar mahal untuk "jalur upgrade" yang mungkin tidak akan pernah kamu gunakan.