Indonesia Kantongi Komitmen Investasi Rp 6,3 Triliun dari Forum London

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyaksikan penandatanganan kesepakatan investasi dalam Indonesia Investment Forum 2026 di London.
Penulis: Saiful
Minggu, 08 November 2026 | 06:23:01 WIB

LINEPERISTIWA.COM — Tiga kesepakatan strategis diteken dalam Indonesia Investment Forum 2026 di London dengan nilai total sekitar Rp 6,3 triliun atau US$ 385,1 juta. Komitmen terbesar datang dari sektor pengolahan timah, disusul pusat data AI dan perakitan alat berat. Penandatanganan disaksikan langsung Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM merinci tiga komitmen yang masuk. Titanium Capital berencana menanamkan Rp 4,16 triliun (setara US$ 252,1 juta) di sektor pengolahan timah. Nilai itu menyerap porsi terbesar dari total komitmen yang dihimpun.

Dua kesepakatan lain menyusul. Axelera akan mengembangkan pusat data berbasis kecerdasan buatan di KEK Industropolis Batang senilai EUR 50 juta (setara US$ 56 juta). Sementara BlackInk Co-operation Limited memanfaatkan lahan kawasan industri untuk fasilitas perakitan alat berat dan suku cadang di Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP) senilai US$ 77 juta.

Pusat Data AI di Batang Lanjutan Pertemuan Trade Expo

Proyek Axelera bukan kesepakatan yang muncul tiba-tiba. Komitmen ini merupakan tindak lanjut pertemuan bisnis kedua pihak pada Trade Expo Indonesia 2026. Lokasinya di KEK Industropolis Batang, kawasan yang diposisikan sebagai simpul industri pengolahan di Jawa Tengah.

Adapun BlackInk masuk lewat skema pemanfaatan lahan kawasan industri. Fasilitas perakitan alat berat dan suku cadang di JIEP menambah daftar investasi manufaktur yang menargetkan pasar domestik.

Rosan: Investor Tidak Menyukai Ketidakpastian

Rosan menempatkan kepastian regulasi sebagai kunci menarik modal asing. Ia menyampaikan hal itu dalam forum yang mengangkat tema "Fostering Resilient Investment Through a Robust Supply Chain".

"Ketika memutuskan untuk berinvestasi, saya selalu mengatakan bahwa investor tidak menyukai ketidakpastian. Investor menginginkan kepastian, prediktabilitas, serta proses yang kredibel," ujarnya, dikutip dari keterangan tertulis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.

Ia menambahkan pemerintah terus meninjau dan me

Reporter: Saiful