Rosan Ingin Jumlah UMKM Berkurang, Target Naik Kelas Jadi Usaha Besar

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani berbicara dalam Rapat Pimpinan Nasional Kadin Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis (29/10).
Penulis: Yasir
Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:03:06 WIB

LINEPERISTIWA.COM — Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menargetkan jumlah UMKM di Indonesia justru menyusut, bukan bertambah, karena para pelakunya naik kelas ke skala usaha lebih besar. Ia menilai jumlah UMKM yang stagnan di angka 60 juta selama bertahun-tahun sebagai tanda pengembangan usaha nasional tidak berjalan.

Rosan menyampaikan pandangan itu saat pemaparan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia 2026 di Jakarta. Menurut dia, indikator keberhasilan pembinaan UMKM seharusnya dilihat dari perpindahan pelaku ke jenjang usaha yang lebih besar, bukan dari besarnya populasi usaha mikro.

"Kalau saya bilangnya, saya pengennya UMKM di Indonesia itu makin berkurang, makin sedikit. Karena kalau jadi UMKM terus, kapan naik kelasnya?" ujar Rosan, Kamis (29/10).

Angka 60 Juta UMKM Dianggap Bukan Tolok Ukur Keberhasilan

Rosan menilai jumlah UMKM yang besar tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pengembangan usaha nasional. Pemerintah dan dunia usaha, katanya, perlu mendorong pelaku UMKM berkembang menjadi usaha dengan skala lebih besar.

"Makanya saya enggak bangga kalau UMKM kita 60 juta, tahun depan 60 juta lagi, kapan naik kelasnya? Kalau bisa tahun ini 60 juta, tahun depan 50 juta, tahun berikutnya 40 juta, kenapa? Mereka naik kelas jadi pengusaha kecil, naik kelas jadi pengusaha menengah, bahkan jadi pengusaha besar," ujar Rosan.

Pernyataan itu mengubah cara pandang umum selama ini. Selama bertahun-tahun, penambahan jumlah UMKM selalu dibaca sebagai capaian positif. Rosan justru membalik logikanya: populasi yang tidak menyusut menandakan ada pelaku yang tertahan di skala mikro dan tidak pernah tumbuh.

Kadin Diminta Wajib Bantu UMKM Naik Kelas

Rosan menyebut upaya mendorong UMKM naik kelas sejalan dengan visi dan misi Kadin dalam membantu pengembangan UMKM, terutama yang tersebar di berbagai daerah. Ia meminta pengusaha besar yang tergabung dalam Kadin ikut menanggung beban pembinaan itu.

"Memang teman-teman Kadin yang sudah besar yang ada di sini, hukumnya wajib untuk bantu UMKM," tegasnya.

Menurut Rosan, Kadin memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara pelaku usaha dan potensi ekonomi di berbagai daerah. Dengan dukungan tersebut, ia berharap perekonomian di tingkat kabupaten, kota, hingga provinsi terus meningkat.

Kerja Sama Rp 20 Triliun dengan 1.000 UMKM

Dalam kesempatan yang sama, Rosan menyatakan Kementerian Investasi dan Hilirisasi menjalin kerja sama dengan sekitar 1.000 UMKM di berbagai daerah. Nilai kerja sama itu mencapai sekitar Rp 20 triliun.

Ia berharap kerja sama tersebut memberikan dampak terhadap perkembangan usaha lokal dan mendorong pelaku UMKM meningkatkan kapasitas bisnisnya. Skema ini menjadi salah satu jalur konkret untuk memindahkan pelaku dari skala mikro ke kecil dan menengah, bukan sekadar pembinaan administratif.

Bagi pelaku usaha, arah kebijakan ini berimplikasi pada dua hal. Pelaku mikro didorong masuk rantai pasok usaha besar, sementara pengusaha menengah dan besar mendapat tekanan baru untuk membuka akses pasar dan pendanaan bagi mitra kecilnya.

Investasi Berkualitas Jadi Penopang Setelah Konsumsi Rumah Tangga

Rosan juga menekankan pentingnya investasi berkualitas yang mampu meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, mendorong transfer pengetahuan dan teknologi, serta menciptakan lapangan kerja berkualitas. Menurut dia, investasi menjadi salah satu penopang penting pertumbuhan ekonomi Indonesia setelah konsumsi domestik.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa agenda naik kelas UMKM ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, yakni pergeseran struktur ekonomi dari konsumsi ke investasi produktif. Tanpa investasi yang menyerap tenaga kerja terampil, kata Rosan, jumlah UMKM berpotensi tetap gemuk tanpa perbaikan kualitas.

Reporter: Yasir