IHSG Melemah 1,02% ke 6.009,5, Tekanan Jual Asing dan Yield US Treasury Jadi Pemicu

IHSG ditutup melemah 1,02% ke level 6.009,5 pada perdagangan Kamis (1/10).
Penulis: Fajar
Jumat, 02 Oktober 2026 | 06:03:01 WIB

LINEPERISTIWA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,02% ke level 6.009,5 pada perdagangan Kamis (1/10). Pelemahan indeks dipicu kombinasi sentimen domestik dan eksternal, mulai dari perkembangan reshuffle kabinet hingga level yield US Treasury yang masih tinggi. Tekanan jual investor asing menambah beban pasar saham Indonesia.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebut pelemahan IHSG tidak disebabkan satu faktor tunggal. Menurutnya, pasar merespons sejumlah sentimen yang datang bersamaan dari dalam dan luar negeri.

Dari sisi domestik, pelaku pasar mencermati perkembangan reshuffle kabinet. Ketidakpastian komposisi pemerintahan membuat sebagian investor menahan diri untuk masuk ke pasar.

Tekanan jual investor asing juga masih menjadi perhatian. Aliran dana keluar dari pasar saham Indonesia memperkuat tren pelemahan indeks sepanjang sesi.

Yield US Treasury Tinggi dan Rupiah Tertekan

Dari eksternal, Nafan menyoroti level yield US Treasury yang masih tinggi. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang menarik membuat investor global cenderung memindahkan dana ke aset berdenominasi dolar.

Kondisi itu turut menekan nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ketidakpastian geopolitik global melengkapi daftar faktor yang membebani IHSG. Situasi ini membuat investor memilih posisi wait and see ketimbang menambah eksposur di pasar saham.

Level 6.009,5 Jadi Titik Krusial yang Dipantau

Penurunan 1,02% membawa IHSG ke level 6.009,5. Level psikologis 6.000 menjadi titik yang dipantau pelaku pasar untuk melihat apakah tekanan jual berlanjut atau mulai mereda.

Nafan mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap potensi tekanan lanjutan. Kombinasi sentimen domestik dan eksternal masih membayangi pergerakan indeks dalam jangka pendek.

Bagi investor, kondisi ini menuntut selektivitas dalam memilih saham. Sektor yang rentan terhadap pelemahan rupiah dan arus modal asing perlu dicermati lebih hati-hati.

Reporter: Fajar