IHSG Dibayangi Data Inflasi dan Neraca Dagang, Bergerak di Rentang 6.110-6.200
LINEPERISTIWA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak konsolidasi pada rentang 6.110-6.200, Kamis (1/10/2026), seiring pergeseran fokus sentimen ke rilis data ekonomi domestik. BRI Danareksa Sekuritas menilai rilis inflasi September dan neraca perdagangan Agustus menjadi penentu arah indeks, terutama untuk menilai ruang kebijakan Bank Indonesia di tengah rupiah yang masih lemah. Tiga saham direkomendasikan beli, dipimpin EMAS.
Rilis Data Domestik Jadi Penentu Arah Indeks
BRI Danareksa Sekuritas menilai data tersebut penting untuk menilai tekanan eksternal, daya beli domestik, serta ruang kebijakan Bank Indonesia di tengah rupiah yang masih berada di level lemah.
"Data ini akan menjadi penting untuk menilai tekanan eksternal, daya beli domestik, serta ruang kebijakan BI di tengah rupiah yang masih berada di level lemah. Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tekanan namun mulai memasuki area support Fibonacci 6.019, dengan support berikutnya di 5.854. MACD masih bearish, sehingga rebound belum terkonfirmasi," tulis riset tersebut.
Beban dari Bursa Wall Street dan Harga Komoditas
Laju indeks juga dipengaruhi berlanjutnya pelemahan Dow Jones sebanyak 0,86% dan S&P500 sebanyak 0,25% semalam. Sebaliknya, Nasdaq naik 0,24%.
Penurunan harga minyak dan emas turut menambah tekanan pada pergerakan IHSG pada sesi kali ini.
Net Sell Asing Rp 1,61 Triliun di Sesi Sebelumnya
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup turun 50,56 poin atau 0,83% ke level 6.071. Investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham mencapai Rp 1,61 triliun.
Net sell terbanyak melanda saham big cap, seperti BBCA senilai Rp 231,10 miliar, TLKM mencapai Rp 225,11 miliar, dan BMRI mencapai Rp 205,94 miliar.
Penurunan indeks dipicu pelemahan mayoritas sektor saham. Berikut rinciannya:
- Sektor teknologi turun 2,76%
- Sektor konsumer primer melemah 2,36%
- Sektor energi turun 1,35%
- Sektor keuangan melemah 0,60%
- Sektor transportasi turun 0,70%
- Sektor infrastruktur turun 0,36%
- Sektor properti turun 0,36%
- Sektor material dasar turun 0,28%
Sebaliknya, kenaikan melanda saham sektor industri sebesar 1,17% dan sektor konsumer non primer naik 0,15%.
Saham Pilihan: EMAS, UNTR, dan SRSN
BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham EMAS dengan target harga Rp 7.800-8.000, UNTR dengan target harga Rp 27.350-27.850, dan SRSN dengan target harga Rp 137-143.
Saham Pencetak Kenaikan Terbesar
Sejumlah saham mencatat kenaikan harga paling pesat pada sesi sebelumnya, dipimpin saham berkapitalisasi kecil.
- AIMS naik 25% menjadi Rp 605
- SAFE naik 25% menjadi Rp 570
- BSWD naik 24,68% menjadi Rp 2.880
- BLTZ naik 24,53% menjadi Rp 2.310
- CCSI naik 24,50% menjadi Rp 376