Gurita Djarum Melebar ke Sembilan Entitas Singapura dan London, 90% Investasi Hartono Tetap di RI
LINEPERISTIWA.COM — Keluarga Hartono menginvestasikan sedikitnya US$1,4 miliar atau sekitar Rp 24,9 triliun di luar negeri melalui sembilan entitas yang berbasis di Singapura dan London. Meski begitu, Manajemen Djarum menegaskan sekitar 90% portofolio investasi keluarga pemilik Grup Djarum masih berada di Indonesia. Ekspansi lintas negara itu disebut sebagai kelanjutan diversifikasi yang sudah berjalan puluhan tahun, bukan pemindahan pusat bisnis.
Jejak konglomerasi keluarga Hartono membentang jauh dari bisnis rokok yang menjadi titik awal di Kudus, Jawa Tengah. Kini portofolionya mencakup perbankan, properti, elektronik, perkebunan, telekomunikasi, hingga ekonomi digital. Perluasan terbaru menyentuh dua arah sekaligus: lintas sektor dan lintas negara.
Corporate Communications Manager PT Djarum Budi Darmawan menyatakan angka investasi luar negeri itu tidak mengubah komitmen perusahaan terhadap pasar domestik. Menurut dia, sebagian besar aset keluarga Hartono masih tertanam di dalam negeri.
"Memang dari awal kami bangun ini bisnisnya adalah ikut untuk bisa membangun Indonesia menjadi negara yang digdaya. Jadi (kami) ikut tumbuh bersama-sama negara ini," kata Budi kepada Katadata, Rabu pekan kedua September.
Dari Kudus ke Singapura dan London
Merujuk pemberitaan Bloomberg, nilai investasi luar negeri keluarga Hartono mencapai US$1,4 miliar. Dana itu disalurkan lewat sembilan entitas yang berdomisili di Singapura dan London. Manajemen Djarum menyebut langkah tersebut sebagai tahap lanjutan dari diversifikasi yang telah berlangsung sejak lama.
Budi menegaskan tidak ada yang berubah dari semangat bisnis Grup Djarum, baik di masa lalu maupun saat ini. Ekspansi ke luar negeri diposisikan sebagai perluasan jangkauan, bukan relokasi pusat bisnis.
BCA Jadi Aset Inti Setelah Struktur Pengendali Berubah
Bank Central Asia (BBCA) menempati posisi sentral dalam portofolio keluarga Hartono. Setelah Michael Bambang Hartono meninggal pada Maret 2026, struktur pengendalian PT Dwimuria Investama Andalan berubah. Robert Budi Hartono kini menjadi satu-satunya pemegang saham pengendali terakhir BCA.
Perubahan itu dicatat OJK pada akhir Juli 2026 dan diumumkan BCA pada awal Agustus. Langkah ini menegaskan peran BCA sebagai tulang punggung kekayaan keluarga Hartono di sektor keuangan.
Selain perbankan, keluarga Hartono menguasai jaringan menara telekomunikasi melalui PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR). Di sektor digital, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2022 dengan menghimpun dana sekitar US$510 juta.
Polytron hingga Mobil Listrik
Bisnis elektronik dijalankan melalui PT Hartono Istana Teknologi yang menaungi Polytron. Perusahaan itu memperluas lini usaha ke kendaraan listrik dengan meluncurkan mobil listrik pada 2025. Langkah ini menandai masuknya Grup Djarum ke sektor otomotif elektrifikasi yang tengah tumbuh di pasar domestik.
Di properti, Grand Indonesia menjadi salah satu aset utama. Sejak 2024, Grup Djarum mulai masuk ke kawasan industri modern Subang Metropolitan lewat penyertaan modal di PT Suryacipta Swadaya, anak usaha SSIA.
Akumulasi Saham SSIA dan Kepemilikan 10,24%
Komitmen di SSIA diperkuat di pasar modal ketika PT Dwimuria Investama Andalan mengakumulasi saham SSIA di pasar reguler mulai awal Juli 2025. Aksi korporasi berlanjut pada 22 Juli 2025 dengan penyerapan sisa saham treasuri hasil buyback sebanyak 62,93 juta lembar senilai sekitar Rp 169,4 miliar.
Akumulasi bertahap itu melampaui porsi kepemilikan pendiri lokal, Keluarga Suriadjaja. Per 17 September 2026, kepemilikan Grup Djarum di SSIA tercatat 482 juta saham atau setara 10,24%, menjadikannya salah satu pemegang saham institusi terbesar SSIA.
Masuknya entitas terafiliasi Prajogo Pangestu sebagai pemegang saham SSIA berlangsung bersamaan dengan akumulasi tersebut. Melalui GDP Venture, keluarga Hartono juga membangun portofolio di sektor teknologi dan digital, termasuk menjadi pengendali PT Bach Multi Global Tbk (BACH) yang bergerak di penyediaan jasa dan infrastruktur digital.
Apa Artinya bagi Investor
Peta kepemilikan yang melebar ini membuat saham-saham terafiliasi Grup Djarum seperti BBCA, TOWR, SUPR, BELI, SSIA, dan BACH menjadi perhatian pelaku pasar. Diversifikasi lintas negara memberi bantalan terhadap risiko sektor domestik, tetapi juga membuka eksposur terhadap dinamika ekonomi Singapura dan Inggris.
Bagi investor, pernyataan manajemen soal 90% aset yang tetap di Indonesia menjadi sinyal bahwa inti bisnis tidak bergeser. Arah konglomerasi Hartono ke depan akan bergantung pada seberapa agresif ekspansi digital dan energi baru dijalankan, sembari menjaga posisi BCA sebagai mesin kas utama grup.