Pencarian

IHSG Berpeluang Technical Rebound, Analis Sebut Level 6.000 Kunci

Senin, 12 Oktober 2026 • 06:03:01 WIB
IHSG Berpeluang Technical Rebound, Analis Sebut Level 6.000 Kunci
Pergerakan IHSG dalam sepekan terakhir dipantau pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia.

LINEPERISTIWA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak dalam tren cautiously optimistic pada perdagangan sepekan ke depan. Peluang technical rebound terbuka lebar selama indeks mampu bertahan di atas level psikologis 6.000. Solidnya indikator ekonomi domestik dan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi dua penopang utama.

Penilaian itu disampaikan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, yang menilai pasar saham domestik masih punya bantalan dari dalam negeri. Menurutnya, selama IHSG bertahan di level 6.000 atau lebih, ruang kenaikan teknikal tetap terbuka.

"Selama IHSG masih mampu bertahan di level 6.000 atau lebih, maka dari itu peluang terjadinya technical rebound terbuka lebar. Untuk perdagangan IHSG pada pekan nanti memang dalam kategori cautiously optimistic," ujar Nafan kepada IDX Channel, Minggu (11/10/2026).

Level 6.000 Jadi Garis Pertahanan yang Wajib Dipantau

Angka 6.000 bukan sekadar level psikologis. Bagi pelaku pasar, posisi itu menjadi penanda apakah tekanan jual masih terkendali atau justru berlanjut ke area yang lebih dalam.

Nafan menempatkan level tersebut sebagai syarat utama sebelum skenario rebound dianggap valid. Jika indeks gagal bertahan, proyeksi cautiously optimistic bisa berubah.

Dua Pendorong: Ekonomi Domestik dan Redanya Geopolitik

Dari sisi internal, indikator ekonomi dalam negeri yang solid disebut menjadi penopang pergerakan pasar saham. Kondisi itu memberi keyakinan bahwa fundamental emiten masih terjaga di tengah ketidakpastian global.

Sementara dari eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mulai mereda memberi dorongan positif bagi pasar keuangan. Pelandaian harga minyak mentah Brent disebut turut meredakan tekanan inflasi global.

"Kekhawatiran geopolitik di kawasan Timur Tengah sudah mulai mereda. Ini membuat harga minyak Brent melandai, sehingga harga energi ini berpotensi meredakan tekanan inflasi dan memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih akomodatif," kata Nafan.

Ruang The Fed dan Implikasinya ke Pasar Indonesia

Kebijakan moneter The Fed yang lebih akomodatif menjadi faktor penting bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Suku bunga global yang tidak agresif menahan laju penguatan dolar AS dan memberi ruang bagi aliran modal masuk.

Bagi investor, kombinasi indikator domestik yang solid dan meredanya sentimen eksternal menjadi alasan untuk mencermati saham-saham yang sebelumnya tertekan. Namun pelaku pasar tetap perlu memperhatikan level 6.000 sebagai acuan risiko.

Nafan tidak menyebut target indeks spesifik untuk pekan depan. Ia hanya menegaskan bahwa kategori pasar saat ini adalah cautiously optimistic, dengan technical rebound sebagai skenario yang terbuka selama syarat level bertahan terpenuhi.

Sumber: idxchannel.com

Follow lineperistiwa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks