SKK Migas Pangkas Ekspor Gas ke Singapura 31 BBTUD per 24 Oktober 2026

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengumumkan pemangkasan ekspor gas ke Singapura sebesar 31 BBTUD mulai 24 Oktober 2026.
Penulis: Yasir
Minggu, 25 Oktober 2026 | 06:42:01 WIB

LINEPERISTIWA.COM — Kepala SKK Migas Djoko Siswanto memutuskan pemangkasan ekspor gas bumi ke Singapura sebesar 31 BBTUD mulai Sabtu, 24 Oktober 2026. Pengurangan itu berasal dari dua titik pasokan utama, yakni Natuna 15 BBTUD dan Sumatra 16 BBTUD. Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) menyebut pengurangan tersebut kurang dari 2% dari total kebutuhan gas harian negeri itu.

Keputusan pemangkasan disampaikan Djoko di sela acara Subroto Awards 2026 Kementerian ESDM di The Westin, Jakarta, Jumat (23/10/2026) malam. Ia menyebut pengurangan berlaku sejak keesokan harinya melalui jalur pipa dari wilayah Natuna dan Sumatra.

"Mulai besok (Sabtu, 23/10/2026, hari ini), kita kurangi (ekspor) gas ke Singapura dari Natuna 15 BBTUD, dari Sumatra 16 BBTUD," ujar Djoko.

Natuna dan Sumatra Jadi Titik Pemangkasan

Dua wilayah itu selama ini menjadi tulang punggung pengiriman gas Indonesia ke Singapura lewat pipa bawah laut. Alokasi Natuna dipangkas 15 BBTUD, sementara Sumatra menyumbang pengurangan 16 BBTUD.

Dengan total 31 BBTUD, pemangkasan menyentuh sisi volume pengiriman harian, bukan penghentian total. SKK Migas belum memerinci durasi pemangkasan maupun dasar operasional di balik keputusan tersebut.

Singapura Sebut Dampaknya Kurang dari 2%

Juru bicara EMA menegaskan pengurangan 31 BBTUD tidak mengguncang neraca gas harian Singapura. Kebutuhan gas negeri itu melampaui 1.000 BBTUD, sehingga porsi dari Indonesia dinilai kecil.

"Ini kurang dari 2% dari total kebutuhan gas harian kami yang melampaui 1.000 bbtud," ujarnya, mengutip CNA.

EMA memahami para importir akan menempuh segala upaya hukum yang relevan dalam kontrak mereka terkait gangguan pasokan. Regulator energi Singapura itu juga menyatakan telah menyiapkan rencana darurat.

Pasokan Pengganti dan Cadangan Pembangkit

Dalam beberapa bulan terakhir, Singapura mencatat pengurangan pasokan berkisar 20 BBTUD hingga 100 BBTUD akibat pemeliharaan terencana maupun mendesak. Pengurangan itu tergantikan dari sumber gas lain tanpa kendala.

"Singapore GasCo siap secara operasional untuk mengimpor lebih banyak gas alam cair kapan saja," ujar EMA.

Negeri itu mengimpor gas alam dari berbagai sumber di dunia, tidak hanya Indonesia. Perusahaan pembangkit listrik juga diwajibkan memelihara cadangan bahan bakar memadai, termasuk cadangan minyak solar.

"Oleh karena itu, kami memiliki pasokan energi yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan nasional," ujar EMA.

Apa Artinya bagi Pelaku Gas dan Pembeli di Singapura

Bagi kontraktor hulu di Natuna dan Sumatra, pemangkasan berarti penyesuaian volume penjualan harian yang harus dialokasikan ulang. Pembeli gas di Singapura menghadapi opsi menambah kargo LNG atau menarik pasokan dari pemasok lain.

Pernyataan EMA menunjukkan tekanan terhadap harga gas Singapura kemungkinan terbatas. Namun importir tetap membuka jalur klaim kontraktual, sinyal bahwa gangguan pasokan tetap dicatat sebagai peristiwa komersial.

SKK Migas belum mengungkap apakah pemangkasan berkaitan dengan kebutuhan domestik, gangguan teknis fasilitas, atau faktor lain. Durasi dan potensi perubahan volume menjadi hal yang akan dipantau pelaku pasar gas kedua negara.

Reporter: Yasir