Denera Sebut Lahan Jadi Kendala Utama Proyek Sampah Jadi Listrik di Jakarta
LINEPERISTIWA.COM — PT Daya Energi Bersih Nusantara menyatakan ketersediaan lahan menjadi penghambat terberat proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik di Jakarta. Ketersediaan lahan di ibu kota dinilai sangat terbatas karena kepadatan permukiman dan aktivitas usaha yang sudah tinggi. Denera kini menunggu penetapan lokasi resmi serta kelengkapan administrasi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelum konstruksi bisa dimulai.
CEO Denera Fadli Rahman menyampaikan bahwa lahan menjadi persoalan paling sulit dalam merealisasikan fasilitas pengolahan sampah modern di Jakarta. Ia menilai ruang di ibu kota sudah sangat padat sehingga pencarian lokasi yang layak memakan waktu lebih panjang dibandingkan aspek teknis lainnya.
"Permasalahan di Jakarta adalah lahan. Lahannya itu susah carinya, gitu, karena sudah sangat padat," ujar Fadli dalam media briefing di kantor Denera, Jakarta Selatan, Senin (19/10).
Jakarta Hasilkan 9.000 Ton Sampah per Hari
Beban sampah ibu kota menjadi alasan utama mengapa fasilitas PSEL dibutuhkan. Fadli menyebut Jakarta memproduksi sekitar 9.000 ton sampah setiap hari, angka yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan program pemilahan dari rumah tangga.
"Memang Jakarta sekarang memproduksi 9.000 ton per hari dan adanya pemilahan sepertinya dampak dari pemilahan itu cukup baik, gitu. Tetapi sisa dari pemilahan sendiri pun perlu diolah," kata Fadli.
Tanpa teknologi pengolahan berskala besar, residu hasil pemilahan tetap berakhir di tempat pembuangan akhir. Kondisi itu membuat volume sampah yang harus ditangani terus menumpuk seiring pertumbuhan aktivitas warga dan pelaku usaha di Jakarta.
Menunggu Finalisasi Lokasi dari Pemprov DKI
Selain soal lahan, proses administrasi di tingkat pemerintah daerah ikut memperpanjang durasi persiapan proyek. Denera masih menunggu penetapan lokasi resmi serta pemenuhan kelengkapan dokumen dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
"Jakarta pasti akan dibangun. Pertanyaannya kapan? Dan ini yang kita juga masih menunggu proses administrasi dari Pemprov Jakarta. Rekan-rekan dari Pemprov DKI sekarang sedang memfinalisasi lokasi lahan yang terakhir dipilih," terang Fadli.
Pemprov DKI menurut Fadli tengah menyelesaikan pemilihan lokasi terakhir yang akan dipakai. Penetapan itu menjadi pintu masuk bagi Denera untuk melanjutkan tahapan proyek ke level pelaksanaan.
Studi Kelayakan Sudah Jalan Sebelum Perizinan Rampung
Denera tidak menunggu seluruh administrasi selesai untuk bergerak. Perusahaan telah memulai kajian kelayakan lebih awal agar pembangunan fisik bisa langsung berjalan begitu perizinan dan penetapan lahan tuntas.
"Dari kami, kami berkomitmen untuk terlepas dari memang masih berproses administrasi tersebut, kita sudah memulai kajian kelayakan di awal lebih dahulu. Jadi prinsip atau spirit dari percepatan itu tetap bisa terjaga," tegas Fadli.
Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa Denera berupaya memangkas waktu tunggu yang biasanya muncul setelah izin keluar. Dengan studi kelayakan yang sudah tersedia, tahap desain teknis dan persiapan konstruksi bisa berjalan lebih cepat.
Arti bagi Pelaku Usaha dan Investor Sektor Energi
Bagi pelaku usaha di sektor pengelolaan sampah dan energi terbarukan, kepastian lokasi menjadi faktor penentu kelayakan investasi. Proyek PSEL membutuhkan lahan luas dengan akses transportasi memadai agar biaya pengangkutan sampah tetap terkendali.
Investor umumnya mencermati dua hal sebelum masuk ke proyek semacam ini: kejelasan status lahan dan kepastian pasokan bahan baku. Keduanya saling terkait karena nilai keekonomian PSEL bergantung pada volume sampah yang bisa diolah setiap hari secara konsisten.
Sampai penetapan lokasi keluar dari Pemprov DKI, jadwal eksekusi proyek PSEL Jakarta masih bergantung pada laju penyelesaian administrasi. Denera menyatakan komitmennya untuk membangun, namun tenggat pastinya belum bisa dipastikan.