Wall Street Bervariasi, Imbal Hasil US Treasury 5% Tekan Dow Jones
LINEPERISTIWA.COM — Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun kembali menembus level 5% dan menekan indeks Dow Jones turun 95,40 poin atau 0,18% ke 51.682,64 pada perdagangan Jumat (18/9). S&P 500 dan Nasdaq Composite justru berhasil menguat masing-masing 0,17% dan 0,39% di tengah gejolak pasar. Kenaikan suku bunga Federal Reserve untuk pertama kalinya dalam tiga tahun menjadi pemicu utama volatilitas pekan lalu.
Pasar saham Amerika Serikat bergerak bervariasi pada perdagangan Jumat (18/9) setelah investor mencermati dua tekanan sekaligus: kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel. Dow Jones Industrial Average menjadi satu-satunya indeks utama yang ditutup di zona merah, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite masih mampu mencatatkan penguatan tipis.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun sempat kembali menembus 5% setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak Juli 2007 pada awal pekan. Yield tersebut terakhir naik hampir 6 basis poin menjadi 5,006%. Pergerakan ini menjadi sinyal bahwa biaya pinjaman jangka panjang masih berpotensi bertahan tinggi lebih lama.
Dow Jones Terkoreksi Tiga Pekan Beruntun
Sepanjang pekan lalu, kinerja indeks utama Wall Street bergerak tidak seragam. Dow Jones turun 1,7% sekaligus memperpanjang tren negatif menjadi tiga pekan beruntun, menjadi penurunan terdalam sejak Maret. S&P 500 juga terkoreksi tipis 0,1% sepanjang pekan.
Nasdaq Composite menjadi satu-satunya indeks utama yang mencatat kenaikan dengan penguatan 0,7%. Investor kembali memburu saham teknologi pada Kamis (17/9), sehari setelah The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin dan mengisyaratkan kemungkinan satu kali kenaikan tambahan hingga akhir tahun.
Perhatian pasar masih tertuju pada prospek kecerdasan buatan (AI) yang dinilai dapat menopang pertumbuhan laba perusahaan, meskipun lingkungan suku bunga tinggi berpotensi bertahan lebih lama. Keputusan The Fed sebelumnya sempat menekan indeks-indeks utama pada perdagangan Rabu (16/9).
Harga Minyak Bertahan di Atas US$100 per Barel
Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS berakhir relatif stabil sepanjang pekan tetapi masih bertahan di atas level US$100 per barel. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 1,58% pada Jumat dan ditutup di US$100,30 per barel.
Kontrak berjangka Brent melemah 0,91% menjadi US$103,87 per barel. Harga minyak yang tetap tinggi menjadi faktor tambahan yang membebani sentimen pasar saham, di samping tekanan dari pasar obligasi.
Siklus Kenaikan Suku Bunga Dinilai Baru Dimulai
Scott Welch, kepala investasi di Certuity, menilai kenaikan suku bunga terbaru bukan langkah satu kali. Ia memperkirakan siklus kenaikan suku bunga baru saja dimulai dan berpotensi menekan kinerja pasar saham dalam beberapa bulan ke depan.
"Beberapa ketidakpastian telah teratasi pekan ini ketika The Fed menaikkan suku bunga," kata Welch dikutip CNBC International, Senin (21/9).
"Entah pada Oktober atau setelah pemilu, saya memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali lagi pada 2026 dan kemungkinan satu atau dua kali lagi pada 2027," ujar Welch.
Dengan prospek tersebut, Welch memperkirakan tekanan terhadap imbal hasil obligasi pemerintah AS akan terus berlanjut. Ia juga menilai harga minyak berpotensi bertahan di level tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
"Meskipun saya tidak bersikap pesimis terhadap pasar, saya rasa kita sedang berada dalam lingkungan yang bergerak lambat hingga akhir tahun ini," tambah kepala investasi tersebut.
Apa Artinya bagi Investor Global dan Pasar Indonesia
Kombinasi yield US Treasury di atas 5% dan harga minyak di atas US$100 per barel menjadi kombinasi yang menekan selera risiko investor global. Bagi pasar emerging market termasuk Indonesia, kondisi ini berpotensi memicu arus modal keluar dari aset berisiko jika imbal hasil obligasi AS terus naik.
Investor domestik perlu mencermati pergerakan yield obligasi AS dan harga minyak pekan ini sebagai indikator awal arah arus modal asing. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar obligasi domestik biasanya mengikuti pergerakan kedua variabel tersebut dengan jeda singkat.