Danantara Dipuji Pengamat Internasional, Jadi Jembatan Pemerintah dan Investor
LINEPERISTIWA.COM — Danantara disebut berperan sebagai jembatan antara pemerintah Indonesia dan investor, baik domestik maupun asing. Kepala Riset DBS Group Research Indonesia William Simadiputra menilai badan pengelola investasi itu menjalankan mandatnya secara profesional sebagai co-investor. Kehadirannya dinilai memberi jaminan bahwa investasi di proyek strategis, termasuk energi terbarukan, berjalan dengan skema business to business.
William Simadiputra menyampaikan penilaian itu dengan menyoroti posisi Danantara sebagai sovereign wealth fund yang memiliki mandat investasi. Menurut dia, badan pengelola investasi ini menjembatani kepentingan Pemerintah Indonesia dengan investor swasta.
"Sebenarnya Danantara bisa dibilang menjadi bridge sebagai Sovereign Wealth Fund di Indonesia, di mana sebagai suatu badan pengelola investasi yang memiliki mandat investasi, Danantara bisa menjadi seperti suatu entitas yang menjembatani antara Pemerintah Indonesia dengan investor," ujar William, dikutip dari Antara.
Sebagai co-investor, Danantara menjalankan perannya di sejumlah proyek, termasuk energi terbarukan. Kehadiran badan pengelola investasi ini memberi jaminan bahwa aktivitas investasi dari investor swasta nasional maupun luar negeri dilakukan secara profesional, dengan skema business to business antar-investor.
"Jadi itu sama saja seperti kita berinvestasi bersama perusahaan investasi yang mungkin dikelola oleh swasta. Mungkin itu jadi salah satu poin plus atau nilai tambah kehadiran Danantara, di mana ini memberikan perpanjangan tangan pemerintah untuk melakukan investasi secara profesional," terang William.
Tata Kelola dan Shareholder Value Jadi Sorotan
William menambahkan, hal yang paling dicari dari sebuah badan pengelola investasi adalah bagaimana menciptakan shareholder value. Tata kelola menjadi faktor utama yang menentukan apakah mandat investasi Danantara bisa berjalan sesuai harapan investor.
Pandangan senada datang dari media internasional The Telegraph. Media itu menyoroti kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap badan usaha milik negara.
Restrukturisasi BUMN Dinilai Berani
Rovshan Ibrahimov, Profesor Departemen Hubungan Internasional Webster University, menilai langkah restrukturisasi BUMN menunjukkan keberanian mengambil keputusan sulit. Dalam analisisnya yang dimuat The Telegraph, ia menilai kebijakan itu bisa menjadi pelajaran bagi para pemimpin politik di negara-negara Barat.
Restrukturisasi BUMN yang dijalankan pemerintah menyentuh sejumlah sektor, dengan Danantara ditempatkan sebagai badan pengelola investasi yang menaungi sejumlah aset negara. Peran ini membuat Danantara menjadi titik temu antara kepentingan pemerintah dan ekspektasi investor terhadap pengelolaan aset secara profesional.
Bagi investor, kepastian tata kelola dan skema co-investment menjadi pertimbangan utama sebelum menanam modal di proyek-proyek yang dikelola Danantara. Sementara bagi pemerintah, keberadaan badan pengelola investasi ini memperpanjang kemampuan negara untuk masuk ke proyek strategis tanpa harus bergantung sepenuhnya pada anggaran negara.
Pujian dari pengamat internasional maupun media asing menempatkan Danantara sebagai ujian bagi pemerintah dalam membuktikan bahwa restrukturisasi BUMN berjalan seiring dengan perbaikan tata kelola. Hasilnya akan terlihat dari seberapa besar minat investor yang benar-benar masuk ke proyek-proyek yang dikelola badan pengelola investasi tersebut.