Emmanuel Petit Nilai Surat Terbuka ke FIFA Sia-sia, tapi Tetap Desak Infantino Mundur
LINEPERISTIWA.COM — Legenda tim nasional Prancis, Emmanuel Petit, buka suara soal keterlibatannya dalam surat terbuka yang menuntut perubahan radikal di tubuh FIFA. Surat yang juga ditandatangani Mikael Silvestre, Olivier Dacourt, dan Lucy Bronze itu dinilai sebagai bentuk protes terhadap kepemimpinan Gianni Infantino yang dinilai otoriter.
Pemicu: Momen Infantino dan Trump di Piala Dunia
Petit mengungkapkan bahwa inisiatif surat tersebut berawal dari pesan singkat yang dikirimkan Silvestre beberapa hari lalu. Pesan itu menanyakan kesediaannya untuk bergabung dalam aksi protes kolektif para mantan pemain.
"Silvestre yang menghubungi saya beberapa hari lalu lewat pesan untuk bertanya apakah saya setuju mencantumkan nama saya dalam daftar mantan pemain yang mengikuti apa yang sekali lagi terjadi selama Piala Dunia di Amerika Serikat, terutama episode Infantino-Trump," kata Petit dalam program Rothen s'enflamme di RMC.
Momen kebersamaan Infantino dengan Presiden AS Donald Trump di ajang Piala Dunia 2026 menjadi pemicu utama kemarahan para legenda. Bagi Petit, insiden tersebut adalah simbol dari semakin jauhnya FIFA dari nilai-nilai demokrasi dan transparansi.
Kritik untuk Puncak Kekuasaan, Bukan Staf FIFA
Pria yang menjadi pahlawan Piala Dunia 1998 itu menegaskan bahwa surat terbuka tersebut bukanlah serangan terhadap seluruh elemen organisasi. Ia justru menyoroti pola kepemimpinan yang hanya mementingkan kepentingan segelintir orang di puncak hierarki.
"Teks yang kami terbitkan bukanlah seruan terhadap orang-orang yang bekerja di dalam FIFA. Ini menyangkut orang-orang tertentu. Ada orang-orang baik di FIFA," tegasnya.
Mengganti Kursi Presiden Tidak Cukup
Lebih lanjut, Petit memperingatkan bahwa sekadar mengganti Infantino dengan wajah baru tidak akan menyelesaikan masalah akar. Ia menilai budaya birokrasi dan sistem pengambilan keputusan di FIFA harus dirombak total, bukan hanya kepalanya.
"Kami harus mengajukan hal-hal yang konkret. Pemilihan akan datang. Jika Anda menendang keluar Infantino atau menempatkan orang lain, cara kerjanya tidak akan pernah berubah. Dan cara FIFA berfungsi harus berubah pada titik-titik spesifik tertentu," ujarnya.
Mengakui Keterbatasan, Tetap Menyalakan Lampu Peringatan
Meski menyadari bahwa sebuah surat terbuka mungkin tidak akan langsung membongkar struktur kekuasaan yang mengakar di Zurich, Petit tetap pada pendiriannya. Ia menganggap publikasi surat tersebut sebagai langkah penting untuk membangunkan kesadaran publik.
"Itu upaya yang sia-sia. Itu hanya untuk membangunkan," aku Petit.
Ia menutup pernyataannya dengan kritik tajam terhadap arah tata kelola sepak bola dunia saat ini. "Saya tidak memegang kebenaran, tetapi arahnya menuju demokrasi. Hari ini, kita sangat, sangat jauh dari itu. Saya melihat bahwa saat ini, kita berada dalam perampasan, tepatnya, atas kepentingan bersama untuk tujuan pribadi. Dan kita bergerak semakin jauh ke arah itu, dan bukan hanya dalam sepak bola," pungkasnya.