KKP Genjot Produksi Rumput Laut Gracilaria untuk Tarik Investasi Industri

Budidaya rumput laut Gracilaria di tambak pesisir sebagai komoditas bahan baku agar-agar.
Penulis: Saiful
Jumat, 25 September 2026 | 07:02:31 WIB

LINEPERISTIWA.COM — Kementerian Kelautan dan Perikanan mendorong peningkatan produksi rumput laut Gracilaria guna memperkuat pasokan bahan baku industri pengolahan. Langkah ini diarahkan untuk menarik investasi masuk ke sektor hilirisasi rumput laut sekaligus menambah nilai tambah bagi para pembudi daya.

Gracilaria dikenal sebagai jenis rumput laut penghasil agar-agar yang permintaannya cukup besar, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Selama ini sebagian besar produk rumput laut nasional masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambahnya dinikmati di luar negeri.

Mengapa Gracilaria Jadi Pilihan

Gracilaria memiliki sejumlah keunggulan dibanding jenis rumput laut lain. Jenis ini bisa dibudidayakan di tambak dengan salinitas rendah, sehingga cocok dikembangkan di kawasan pesisir yang selama ini bergantung pada budidaya udang dan bandeng.

Dari sisi industri, Gracilaria merupakan bahan baku utama agar-agar yang dipakai luas oleh sektor pangan, farmasi, dan kosmetik. Permintaan bahan ini cenderung stabil karena tidak bergantung pada musim tertentu.

Pemerintah menilai pengembangan Gracilaria bisa menjadi sumber pendapatan alternatif bagi pembudi daya tambak. Pasalnya, harga jual rumput laut kering relatif lebih tahan terhadap gejolak dibanding komoditas perikanan lain.

Dorongan Hilirisasi dan Investasi

Fokus KKP bukan hanya menaikkan volume produksi. Kementerian juga mendorong tumbuhnya industri pengolahan di dalam negeri agar rumput laut tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah.

Dengan adanya pabrik pengolahan di sentra produksi, rantai distribusi bisa dipangkas dan biaya logistik ditekan. Pembudi daya juga berpeluang mendapat harga yang lebih baik karena ada pembeli langsung di sekitar lokasi budidaya.

Masuknya investasi di sektor ini diharapkan menciptakan lapangan kerja baru di kawasan pesisir. Selain itu, industri pengolahan rumput laut dinilai memiliki efek berganda terhadap sektor pendukung seperti transportasi, pengemasan, dan perdagangan.

Sentra Produksi dan Potensi Daerah

Beberapa daerah di Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara dikenal sebagai sentra budidaya rumput laut. Kawasan pesisir utara Jawa, termasuk Indramayu, juga memiliki tambak yang berpotensi dialihfungsikan atau dikombinasikan dengan Gracilaria.

Pengembangan di daerah membutuhkan dukungan infrastruktur seperti akses jalan, listrik, dan air bersih. Tanpa itu, hasil panen berisiko tertahan di tingkat petani karena sulit menjangkau pasar atau pabrik pengolahan.

KKP menyebut pendampingan teknis bagi pembudi daya menjadi bagian dari strategi penguatan produksi. Pendampingan mencakup cara budidaya, penanganan pascapanen, hingga akses pembiayaan.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha

Bagi investor, sektor rumput laut menawarkan peluang di sepanjang rantai nilai, mulai dari pembibitan, budidaya, pengeringan, hingga pengolahan menjadi agar-agar dan produk turunan lain.

Pelaku industri pengolahan bisa memanfaatkan pasokan lokal yang lebih terjamin. Ketergantungan pada impor bahan baku dapat ditekan jika produksi dalam negeri konsisten dan kualitasnya sesuai standar.

Pembudi daya berpeluang mendapat harga lebih kompetitif ketika ada pabrik pengolahan di dekat lokasi budidaya. Namun, kepastian pasar dan harga beli menjadi faktor penentu apakah mereka mau beralih atau menambah komoditas ini.

Tantangan yang Masih Mengadang

Beberapa kendala masih membayangi pengembangan Gracilaria. Kualitas bibit, serangan hama penyakit, dan fluktuasi kualitas air menjadi persoalan yang kerap dihadapi pembudi daya.

Selain itu, harga rumput laut kering di tingkat petani sering berfluktuasi mengikuti permintaan eksportir. Ketika permintaan melemah, harga bisa turun cukup dalam dan merugikan pembudi daya kecil.

Ketersediaan industri pengolahan yang menyerap hasil panen juga belum merata. Di sejumlah daerah, hasil budidaya masih harus dikirim ke luar wilayah untuk diolah sehingga biaya tambahan membebani margin.

Keberhasilan program ini pada akhirnya bergantung pada konsistensi pendampingan, kepastian pasar, dan iklim investasi yang kondusif di kawasan pesisir.

Reporter: Saiful