Harga Minyak Tembus US$100, Kompensasi Subsidi BBM 2026 Bisa Bengkak
LINEPERISTIWA.COM — Kenaikan harga minyak mentah global kembali menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto menyatakan harga minyak dunia yang menembus US$100 per barel memberi tambahan beban kompensasi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Pemerintah sendiri menjamin harga BBM bersubsidi tidak naik sepanjang 2026. Konsekuensinya, selisih antara harga keekonomian dan harga jual di pompa harus ditutup lewat anggaran kompensasi.
Harga Minyak Dunia Naik Berapa Tinggi?
Mengutip Xinhua, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober menembus US$100 per barel pada Kamis (10/9). Harga WTI sempat menyentuh US$100,88 per barel, naik US$4,83 atau 5,03% dari Rabu (9/9).
Dari sisi Brent, mengutip Bloomberg, kontrak November naik 2,9% menjadi US$107,64 per barel pada Senin (14/9) pukul 07.56 waktu Singapura. Brent bahkan sempat melonjak 3,6% ke level di atas US$108 per barel sebelum kenaikannya mereda. Adapun WTI untuk pengiriman Oktober naik 2,5% menjadi US$102,56 per barel.
Mengapa Kompensasi Subsidi BBM Ikut Membengkak?
Eko menilai lonjakan harga minyak ini sifatnya temporer dan sangat bergantung pada tensi geopolitik AS-Israel versus Iran. Meski begitu, dampaknya tetap terasa ke inflasi dan beban kompensasi APBN demi menjaga BBM bersubsidi tidak naik harga.
“Meskipun kenaikan harga minyak ini sifatnya temporer dan sangat bergantung dari tensi geopolitik AS-Israel vs (versus) Iran, namun tentu akan berdampak ke inflasi, beban kompensasi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) demi menjaga BBM bersubsidi tidak naik harga, serta inflasi,” ucapnya dikutip dari Antara di Jakarta, Minggu (14/9).
Eko menambahkan, perbaikan kebijakan subsidi BBM ke arah penerima yang sesuai menjadi kian penting. Tujuannya agar subsidi tetap efisien dan tidak membengkakkan APBN saat harga minyak melonjak.
“Beberapa upaya untuk memperbaiki kebijakan subsidi BBM, (yaitu) ke arah penerima yang sesuai menggambarkan bahwa subsidi BBM ini penting untuk terus diupayakan efisien agar tak membengkakkan APBN saat harga minyak melonjak,” ujar dia.
Sektor Apa Saja yang Terdampak Inflasi?
Risiko inflasi dinilai meningkat karena industri dan sektor distribusi logistik sebagian besar menggunakan BBM non-subsidi. Bahan baku yang berasal dari minyak bumi, seperti plastik, juga berisiko kembali naik.
Situasi alam turut memperberat tekanan tersebut. Eko menyebut saat ini sedang terjadi El Nino, yang biasanya berdampak pada produksi pangan dan harga komoditas.
“Soal potensi harga BBM, kalau non subsidi akan menyesuaikan harga pasar sehingga masih mungkin terjadi kenaikan-kenaikan berikutnya,” ungkap Eko.
Apakah Harga BBM Bersubsidi Akan Naik?
Hingga berita ini ditulis, belum ada keputusan resmi yang menyatakan harga BBM bersubsidi naik pada 2026. Pemerintah masih memegang komitmen menjaga harga BBM bersubsidi tidak naik sepanjang tahun ini.
Yang perlu dicermati justru BBM non-subsidi. Harganya mengikuti pasar, sehingga masih mungkin terjadi kenaikan lanjutan bila harga minyak dunia bertahan di level tinggi.
Untuk informasi resmi soal harga BBM dan kebijakan subsidi, masyarakat dapat memantau kanal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta PT Pertamina. Waspadai pula informasi palsu soal kenaikan harga BBM yang beredar di grup pesan instan tanpa sumber jelas.