Premier League Dihantui Krisis Kredit ala Subprime Usai Rekor Belanja 4 Miliar Euro

Pemain Manchester City merayakan gol di tengah sorotan tajam terhadap skema utang transfer klub-klub Premier League.
Penulis: Fajar
Jumat, 04 September 2026 | 04:28:31 WIB

LINEPERISTIWA.COM — Kegilaan belanja klub-klum Premier League pada bursa transfer yang berakhir Selasa lalu tidak hanya menyita perhatian karena nominalnya yang tembus 4 miliar euro. Sejumlah media Inggris, termasuk The Independent, justru menyoroti struktur pembiayaan di balik transfer tersebut dan memperingatkan adanya risiko besar yang mengintai dalam waktu dekat.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Dari 20 kontestan Premier League, sebanyak 16 klub tercatat membelanjakan lebih dari 100 juta euro. Rekor transfer termahal liga pun kembali disamai setelah Enzo Fernandez resmi pindah dari Chelsea ke Manchester City dengan nilai mencapai 145 juta euro.

Utang Cicilan dan Praktik Berisiko yang Disebut seperti Subprime

Yang membuat para pengamat makin gelisah adalah cara pembayaran transfer yang kian masif menggunakan skema utang. Banyak transaksi tidak dibayar lunas di muka, melainkan dicicil selama bertahun-tahun melalui perusahaan kredit. Praktik ini dinilai mirip dengan krisis subprime yang memicu kolaps finansial global pada 2007-2008.

Metode pembayaran seperti ini dinilai tidak rasional, apalagi di tengah ekonomi global yang masih bergejolak. Klub-klub kecil menjadi pihak yang paling rentan terkena dampaknya jika skema tersebut gagal berjalan.

Situasi ini diperparah dengan lemahnya pengawasan finansial terhadap transaksi antar klub. Meski peredaran uang terus berjalan dan membuat regulasi tampak dipatuhi, utang justru menumpuk di belakang layar. "Krisis kredit tengah membayang di depan mata. Dunia sepak bola memiliki hal yang patut dikhawatirkan," ujar seorang pejabat klub kepada surat kabar Inggris tersebut.

Masuknya Modal Asing dan Tekanan Ekonomi Makro

Premier League memang dikenal sebagai liga terkaya di dunia, ditopang kontrak hak siar televisi yang menggiurkan. Akan tetapi, kemandirian finansial itu kini mulai tergerus oleh derasnya investasi modal asing, khususnya dari Amerika Serikat, dalam beberapa musim terakhir.

Masuknya investor asing membawa praktik-praktik baru yang belum pernah terjadi dalam tradisi sepak bola Eropa. Banyak dari kebiasaan baru ini bertentangan dengan standar pengelolaan klub yang selama ini dipegang erat.

Tekanan tambahan datang dari kebijakan ekonomi makro. Biaya utang publik di negara-negara Barat tengah meningkat, dan hal itu bisa memberatkan pelunasan kredit yang sudah diambil klub-klub Premier League.

"Gelembung Akan Meledak"

The Independent tidak ragu menyampaikan prediksi miringnya. "Gelembung akan meledak. Utang akan ditagih," tulis media tersebut. Dalam skenario terburuk, klub-klub yang berada di papan bawah klasemen atau tidak memiliki pemilik super kaya bakal menjadi korban pertama.

Seorang narasumber yang digambarkan sebagai sosok berkedudukan tinggi menutup analisisnya dengan nada muram. "Semua ini akan runtuh. Dan ketika itu terjadi..." ujarnya, tanpa melanjutkan kalimatnya.

Hingga kini, Premier League memang masih menjadi liga paling kompetitif dan menghibur di dunia. Namun, pertanyaan besarnya kini bukan lagi soal siapa yang akan juara, melainkan seberapa lama model finansial yang ada sekarang sanggup bertahan sebelum akhirnya ambruk.

Reporter: Fajar