Di Kairo, Xi Dorong Timur Tengah Tentukan Nasib Sendiri di Tengah Tegangan AS-Iran

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi menghadiri upacara penyambutan resmi di Istana Kepresidenan Ittihadiya, Kairo, Selasa (1/9).
Penulis: Sutomo
Kamis, 03 September 2026 | 11:11:01 WIB

LINEPERISTIWA.COM — Kedatangan Xi di Istana Kepresidenan Ittihadiya, Kairo, Selasa (1/9), disambut langsung oleh Sisi dengan penghormatan 21 kali tembakan meriam. Agenda yang berlangsung dua hari ini menghasilkan pernyataan bersama soal keamanan kawasan, plus komitmen kerja sama ekonomi yang menyasar sektor-sektor baru.

Pesan Kairo: Menolak Intervensi dan Standar Ganda

Xi menyerukan Timur Tengah seharusnya tidak menjadi ajang tarik-menarik kekuatan asing. "Kita harus menjunjung tinggi prinsip bahwa masyarakat Timur Tengah harus tetap menjadi penentu nasib mereka sendiri, menentang campur tangan pihak luar, dan mendukung negara-negara kawasan dalam memperkuat dialog mengenai perdamaian dan keamanan," ucap Xi dalam keterangan resmi yang dirilis kantor berita Xinhua, Rabu (2/9).

Pemimpin China itu mendukung pembangunan "arsitektur keamanan baru" untuk kawasan yang digagas negara-negara di dalamnya. Xi secara spesifik minta kekuatan eksternal menghentikan "standar ganda" dalam menyikapi isu-isu Timur Tengah.

Isu Palestina Kembali Jadi Perhatian Utama

Dalam pertemuan tingkat tinggi bilateral, Xi menegaskan kembali posisi tradisional Beijing soal konflik Israel-Palestina. Menurut dia, masalah Palestina tetap menjadi "inti dari persoalan Timur Tengah" dan tidak mungkin dikesampingkan dalam upaya mencari stabilitas jangka panjang.

Seruan tersebut turut menyasar peran Perserikatan Bangsa-Bangsa. Xi menuntut PBB menjalankan fungsinya secara efektif di kawasan, terutama saat mekanisme multilateral mulai tersingkirkan oleh kepentingan sepihak sejumlah negara.

Pernyataan-pernyataan ini dilempar dalam situasi yang sensitif. Di episode yang sama, China menyatakan siap "bekerja sama" dengan negara-negara Arab untuk keamanan rute pengiriman minyak internasional yang melintasi Selat Hormuz dan Laut Merah.

Pernyataan Bersama Mesir dan Sinyal ke Washington

Kantor kepresidenan Mesir mengonfirmasi adanya kesepakatan dari kedua pemimpin soal sikap diplomatik. Sisi dan Xi sepakat untuk mendukung "solusi diplomatik" dan mencari "kesepakatan komprehensif untuk mengakhiri perang" di kawasan.

Cuplikan pernyataan ini bisa dibaca sebagai respons langsung atas ketegangan terkini yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Beijing selama ini memang konsisten menyuarakan anti-unilateralisme, dan kunjungan kali ini menjadi relevan karena dilakukan tepat di gerbang Timur Tengah.

Xi mengajak Kairo untuk "bersama-sama menentang unilateralisme dan tindakan intimidasi"—sebuah bahasa yang kerap dipakai Beijing untuk mengkritik kebijakan Washington tanpa menyebutnya secara eksplisit.

Peta Kerja Sama Ekonomi Baru China-Mesir

Diskusi keamanan tersebut berjalan berdampingan dengan pembahasan ekonomi bilateral. Xi mendorong penguatan kerja sama dalam lima bidang prioritas: energi hijau, kendaraan listrik, kedirgantaraan, ekonomi digital, dan teknologi pertanian modern.

Dorongan ini menyiratkan strategi Beijing untuk memperdalam pengaruh komersialnya di Afrika Utara, di tengah persaingan dengan negara-negara Barat yang mulai mengincar pasar yang sama. Mesir sendiri tengah berupaya menarik investasi asing untuk sektor energi terbarukan dan industri manufaktur.

Momen pertemuan ini menjadi bukti bahwa diplomasi bilateral tidak lagi semata berbicara soal hubungan dagang. Kunjungan Xi ke Kairo mengukuhkan Timur Tengah sebagai panggung baru peletakan ulang peta kekuatan global yang kian cair.

Reporter: Sutomo