Tim UNAIR Raih Best Team Genera-Z Berbakti 2026, Tekuk UNPAD-UI-UGM
LINEPERISTIWA.COM — Program Genera-Z Berbakti 2026 yang diinisiasi BCA melalui payung program creating shared value (CSV) Bakti BCA resmi berakhir. Empat tim mahasiswa dari UNAIR, Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) mempertanggungjawabkan program pengabdian yang telah mereka jalankan selama lebih dari satu bulan di desa wisata binaan Bakti BCA.
Penilaian akhir dilakukan berdasarkan empat parameter utama: kualitas presentasi, implementasi program, dampak yang dihasilkan, serta keberlanjutan program. Hasilnya, Tim Amerta Pertiwi dari UNAIR dinobatkan sebagai tim terbaik, disusul Tim Pelita dari UNPAD sebagai Runner-Up I, Tim KATALIS dari UI sebagai Runner-Up II, dan Tim Laskar Selasik dari UGM sebagai Runner-Up III.
Lebih dari 260 Proposal dari 98 Kampus Masuk Seleksi
Kompetisi ini menarik minat besar dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Sebanyak 260 lebih proposal dari 98 perguruan tinggi negeri masuk selama masa pendaftaran, dan delapan tim terpilih untuk melanjutkan ke babak penjurian sebelum akhirnya mengerucut menjadi empat tim finalis.
Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono yang hadir langsung dalam sesi penyampaian laporan akhir memberikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa peserta. Ia menekankan bahwa keempat tim telah membuktikan kemampuannya turun langsung ke masyarakat dan menghadirkan dampak nyata di lokasi masing-masing.
“Selamat bagi seluruh pemenang Genera-Z Berbakti 2026. Kalian adalah juara, dan berhasil membuktikan konsistensi serta komitmen menjalankan seluruh rencana hingga terwujud di lokasi pengabdian. BCA sangat mengapresiasi pengabdian para pemenang selama sekitar satu bulan lebih di berbagai Desa Wisata binaan Bakti BCA,” kata Antonius.
Tanpa Target Tinggi, Tim UNAIR Membawa Kejutan
Kemenangan Tim Amerta Pertiwi menjadi kejutan tersendiri. Para anggota tim mengaku tidak memasang target tinggi saat menjalani pengabdian di Desa Wisata Patakbanteng, Wonosobo. Mereka justru menganggap proses penilaian akhir sebagai momentum evaluasi sekaligus memastikan program yang dijalankan dapat dipertanggungjawabkan.
“Sesi penilaian akhir kami anggap seperti sesi sharing, dengan kami sebagai pembawa informasi dari lapangan. Seandainya mendapat kesempatan, kami juga sangat terbuka untuk membahas lebih lanjut mengenai potensi-potensi yang dimiliki Desa Patakbanteng karena potensi desa ini luar biasa banyak dan berdikari,” ujar Regina, salah satu anggota Amerta Pertiwi.
Pengalaman Lapangan Jadi Modal Tim UI dan UGM
Perjalanan berbeda dialami Tim Pelita dari UNPAD yang menjalankan program di Desa Wisata Situs Gunung Padang, Cianjur. Mereka menggambarkan tahapan laporan akhir layaknya simulasi sidang skripsi dengan durasi lebih panjang, di mana pertanyaan dan tanggapan juri menuntut pemahaman konteks yang mendalam.
“Kami harus berpikir keras menangkap konteks pertanyaan saat penilaian akhir, apalagi setiap jawaban kami terus ditanggapi. Mau tidak mau ada sedikit perenungan yang harus dilakukan sebelum menjawab pertanyaan dari para juri,” kata Ghifari, salah satu anggota tim Pelita.
Sementara itu, Tim KATALIS dari UI yang mengabdi di Desa Wisata Kakaskasen Dua menjadikan pengalaman lapangan sebagai modal utama saat menghadapi dewan juri. Divani, salah satu anggotanya, mengungkapkan bahwa proses tersebut justru mempererat kebersamaan tim.
“Awalnya kami pikir hanya bisa menuangkan ide ke dalam proposal, ternyata pada akhirnya bisa menghabiskan momen susah dan sedih bersama dari awalnya tidak begitu dekat hingga bisa di titik sekarang,” tutur Divani.
Tim Laskar Selasik dari UGM yang bertugas di Desa Wisata Kreatif Terong memandang sesi laporan akhir sebagai proses pembelajaran. Masukan dari dewan juri dinilai menjadi bekal berharga setelah menyelesaikan program di lapangan.
“Apa yang membuat kami senang justru para juri mengajari kami dan memberikan solusi untuk kami belajar. Suasananya seperti sedang kuliah tapi tanpa SKS,” ujar Faruq, salah satu anggota Laskar Selasik.