Petrokimia Gresik Bangun Pabrik Soda Ash Rp 600 Ribu Ton, Gandeng Rekind

Penandatanganan kontrak EPCC pembangunan pabrik soda ash dan amonium klorida antara Petrokimia Gresik dan Rekind di Jakarta, Jumat (31/10/2026).
Penulis: Saiful
Senin, 02 November 2026 | 06:42:31 WIB

LINEPERISTIWA.COM — PT Petrokimia Gresik resmi meneken kontrak EPCC dengan PT Rekayasa Industri (Rekind) untuk membangun pabrik soda ash dan amonium klorida berkapasitas total 600.000 ton per tahun di Gresik, Jawa Timur. Proyek ini menjadi bagian dari upaya memangkas impor bahan kimia dasar sekaligus menyerap karbon dioksida dari fasilitas produksi eksisting perusahaan.

Gresik, Jawa Timur — Anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero) itu menggandeng Rekind sebagai kontraktor engineering, procurement, construction, and commissioning (EPCC) dalam penandatanganan kontrak yang berlangsung di Jakarta, Jumat (31/10/2026). Fasilitas baru ini dirancang memproduksi 300.000 ton soda ash dan 300.000 ton amonium klorida setiap tahun.

Langkah tersebut memperkuat posisi Petrokimia Gresik di rantai pasok kimia nasional. Soda ash selama ini banyak diimpor untuk kebutuhan industri kaca, deterjen, kertas, tekstil, hingga pengolahan air. Sementara amonium klorida dibutuhkan sebagai sumber nitrogen untuk produksi pupuk NPK.

Dua Mandat yang Diemban

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, menyatakan pembangunan pabrik ini mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto soal ketahanan pangan, hilirisasi, dan kemandirian industri. Menurut dia, proyek ini menjawab dua kebutuhan sekaligus.

"Ini proyek yang menuju transisi hijau. Ada carbon capture-nya, sekaligus melakukan diversifikasi sumber nitrogen untuk kebutuhan produksi pupuk NPK kita," tegas Rahmad.

Dari sisi ketahanan pangan, pabrik memasok alternatif sumber nitrogen bagi produksi pupuk NPK. Dari sisi kedaulatan industri, fasilitas ini memproduksi bahan baku kimia di dalam negeri sambil menekan emisi lewat pemanfaatan CO2.

Menyerap Karbon dari Fasilitas Eksisting

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menyebut pabrik ini menjadi tonggak penting bagi daya saing industri dalam negeri. Selain nilai bisnis, ada manfaat lingkungan yang ia soroti.

"Bagi Petrokimia Gresik, ini sangat penting. Bukan hanya aspek bisnis, tetapi juga aspek lingkungan karena ada penyerapan CO2 yang cukup signifikan," ujar Daconi.

Dalam proses produksinya, pabrik menyerap CO2 yang dihasilkan fasilitas eksisting Petrokimia Gresik. Lokasinya di kawasan industri Gresik juga berdekatan dengan sejumlah industri pengguna, sehingga biaya logistik lebih efisien.

Target Rampung 34 Bulan

Direktur Utama Rekind, Triyani Utaminingsih, menyatakan kesiapan penuh mengawal proyek strategis nasional ini. Rekind bertindak sebagai kontraktor EPCC dengan dukungan mitra teknologi, dan pabrik yang memakai Teknologi HOU itu ditargetkan beroperasi dalam 34 bulan.

"Kami berkomitmen untuk memastikan pelaksanaan proyek berjalan secara optimal dengan mengedepankan aspek kualitas, keselamatan, ketepatan waktu, dan keandalan hasil pembangunan," tandas Triyani.

Daconi menambahkan, kunci keberhasilan proyek terletak pada sinergi antarpihak. Petrokimia Gresik berkomitmen memastikan seluruh tahapan pembangunan selesai tepat waktu, sesuai anggaran, dan memenuhi standar kualitas tertinggi.

Bagi Pupuk Indonesia Grup, pabrik ini melengkapi rantai produksi pupuk sekaligus membuka lini bisnis kimia baru. Kapasitas 600.000 ton per tahun menempatkan Petrokimia Gresik sebagai pemain yang lebih kuat di segmen bahan kimia dasar, sejalan dengan target pemerintah mengurangi ketergantungan impor.

Reporter: Saiful