Harga Perak Anjlok 6,27% ke US$49,10, Terendah dalam Setahun

Harga perak ditutup anjlok 6,27% ke US$49,10 per troy ons pada Jumat (30/10/2026).
Penulis: Ragil
Minggu, 01 November 2026 | 07:23:01 WIB

LINEPERISTIWA.COM — Harga perak dunia ditutup di US$49,10 per troy ons pada perdagangan Jumat (30/10/2026), ambruk 6,27% dalam sehari dan menjadi level terendah dalam setahun terakhir. Penurunan logam mulia ini mengikuti pergerakan emas, tertekan lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi yang belum mereda. Dalam sepekan, perak sudah merosot 8,89% secara point-to-point.

Merujuk data Refinitiv, pelemahan perak terjadi seiring emas yang juga tertekan faktor makroekonomi global serupa. Keduanya merupakan logam mulia yang sensitif terhadap tingkat inflasi, suku bunga bank sentral Amerika Serikat, fluktuasi nilai tukar dolar AS, serta ketegangan geopolitik.

Tekanan utama datang dari lonjakan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi berkepanjangan. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti perak dan emas.

Bank Sentral Masih Hawkish, Imbal Hasil Jadi Pertaruhan

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, menilai sikap bank sentral masih belum melunak terhadap inflasi.

"Kekhawatiran yang terus berlanjut terhadap inflasi membuat sejumlah bank sentral cenderung mengambil sikap lebih hawkish atau mengetatkan kebijakan moneter," ujar Peter Grant, dikutip dari Refinitiv.

Sejumlah bank sentral utama memang menahan kenaikan suku bunga pada pekan ini. Namun mereka menegaskan perjuangan melawan inflasi belum berakhir. Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa sama-sama menyoroti risiko inflasi akibat lonjakan biaya energi.

Data yang dirilis Kamis menunjukkan inflasi AS meningkat pada September karena konsumen membayar lebih mahal untuk bensin dan sejumlah barang lainnya. Kondisi ini memperkuat perkiraan ekonom bahwa The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga pada Desember.

Perak Kehilangan Daya Tarik di Tengah Suku Bunga Tinggi

Bagi investor, kombinasi inflasi yang membandel dan suku bunga tinggi menjadi kombinasi yang kurang menguntungkan bagi logam mulia. Perak, yang sebagian permintaannya juga berasal dari sektor industri, lebih rentan terhadap fluktuasi ekonomi dibanding emas.

Sepanjang sepekan terakhir, tekanan jual pada perak berlangsung konsisten. Pelemahan 8,89% secara point-to-point menunjukkan sentimen pasar yang masih negatif terhadap aset safe haven non-yielding.

Pelaku pasar kini menantikan sinyal lanjutan dari The Fed menjelang rapat Desember. Jika ekspektasi kenaikan suku bunga semakin menguat, tekanan terhadap perak dan emas berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.

Reporter: Ragil