Harga Cabai Rawit di Sumut Tembus Rp100 Ribu per Kg, Picu Tekanan Inflasi

Harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional Sumatra Utara menembus Rp100 ribu per kilogram.
Penulis: Saiful
Jumat, 02 Oktober 2026 | 06:22:01 WIB

LINEPERISTIWA.COM — Harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional Sumatra Utara menembus Rp100 ribu per kilogram, sementara cabai merah berada di kisaran Rp85 ribu hingga Rp90 ribu per kg. Lonjakan ini dipicu curah hujan tinggi yang mengganggu produksi dan distribusi, serta peralihan permintaan dari cabai merah ke jenis cabai lainnya.

Peralihan Permintaan dan Cuaca Jadi Pemicu Utama

Kenaikan harga cabai merah pada periode sebelumnya mendorong konsumen beralih ke jenis cabai lain. Peralihan permintaan itu kemudian ikut mengerek harga cabai hijau, cabai rawit, maupun cabai caplak.

"Kenaikan cabai merah sebelumnya membuat peralihan demand dan memicu kenaikan harga jenis cabai lainnya. Tidak berhenti di situ curah hujan yang sangat tinggi juga turut memicu gangguan produksi maupun distribusi yang turut mendorong kenaikan harga cabai," ujar Gunawan.

Faktor cuaca memperparah tekanan pasokan. Sejumlah daerah sentra produksi cabai di Sumut telah melewati masa panen, sementara permintaan dari luar Sumut masih relatif konsisten.

Pasokan Baru Belum Mampu Imbangi Kebutuhan Pasar

Ketidakpastian kesinambungan pasokan ke depan masih membayangi konsumen. Perbedaan kondisi cuaca antara Sumatra Utara dan sejumlah wilayah lain membuat proyeksi harga cabai sulit dipastikan.

"Ketidakpastian terkait kesinambungan pasokan ke depan masih menghantui konsumen saat ini," ujar Gunawan.

Tekanan terhadap harga berpotensi berlanjut apabila pasokan baru belum mampu mengimbangi kebutuhan pasar. Gunawan memperkirakan kenaikan ini akan memukul usaha kuliner, termasuk yang sudah memiliki nama besar.

Pelaku Usaha Kuliner dan Rumah Tangga Paling Terdampak

Daya beli masyarakat disebut semakin tertekan. Pelaku usaha kuliner seperti ayam penyet menanggung beban ganda karena harga daging ayam yang masih mahal dan kenaikan harga cabai.

"Daya beli masyarakat pastinya tertekan saat ini. Bagi pelaku usaha kuliner seperti ayam penyet sangat terpukul dengan kenaikan harga tersebut. Selain mereka terbebani dengan harga daging ayam yang belakangan bertahan mahal, saat ini mereka harus menghadapi kenaikan harga cabai," urainya.

Pada awal Oktober 2026, cabai telah menebar ancaman inflasi sebagai salah satu komoditas dominan dalam perbumbuan dapur. Kenaikan harga memaksa ibu rumah tangga mengubah menu yang lebih akomodatif dengan isi kantong.

"Kenaikan harga akan memaksa para ibu rumah tangga untuk mengubah menu yang lebih akomodatif dengan isi kantong. Sementara bagi pelaku usaha kuliner baik kecil maupun besar, berpeluang mengurangi porsi sambal dibandingkan dengan menaikkan harganya," ucap Gunawan.

Reporter: Saiful